Selasa, 29 November 2011

Perbandingan Desain Official Website untuk Pemerintahan, Corporate, dan Perorangan


Perbandingan website Pemerintahan
ASPEK
INDONESIA
www.indonesia.go.id
THAILAND
www.thaigov.go.th/eng
Warna
Website resmi pemerintahan Indonesia ini didominasi oleh warna putih yang mengesankan sederhana, suci, bersih, dan simple serta dipadukan dengan warna merah yang mengesankan powerful, berani, dan menarik perhatian, sehingga match sesuai dengan warna bendera kebangsaan Indonesia yang mengisyaratkan kesucian dan keberanian. Ditambah sedikit warna hitam dan abu-abu pada menu bar membuat website ini terlihat lebih style. Warna tulisannya pun kontras dengan backgroundnya sehingga mudah untuk dibaca.
Website resmi pemerintahan Thailand versi berbahasa inggris ini juga didominasi oleh warna putih yang mengesankan sederhana, suci, bersih, dan simple. Dipadukan dengan warna biru yang memberi kesan damai, santai, dan sejuk.  Serta sedikit warna merah pada menu bar menjadikannya lebih fresh. Namun sayangnya, warna tulisan pada tittle info “Speech & Press Release”  berwarna orange soft yang kurang kontras dengan background abu-abu yang bergradasi sehingga kurang jelas terbaca.
Tampilan
Tampilan website menarik dengan adanya gambar-gambar yang menunjukkan ciri khas Indonesia, seperti lambang garuda pancasila, candi, batik, letak geografis Indonesia, serta adanya gambar-gambar dengan tampilan animasi yang berisi keindahan Indonesia dengan tema “Wonderful Indonesia”. Proporsi gambar dengan tulisan seimbang dan saling melengkapi. Selain itu letak dan susunan menu-menu utama tertata dengan baik, sehingga pengunjung dapat memilih sub menu yang diinginkan tanpa harus mengklik menu satu persatu.
Tampilan website cukup menarik dengan adanya gambar bendera Thailand pada background, bangunan Istana Thailand, dan foto prime minister Thailand, Ms. Yingluck Shinawatra. Namun proporsi gambar yang kurang banyak dan tulisan info-info topik yang kurang detail ditampilkan dalam homepage menjadikan website ini terkesan sepi. Untuk letak dan susunan menu-menu utama sebenarnya sudah cukup baik, namun sayangnya pengunjung harus mengklik menu satu persatu untuk mencari sub menu info yang diinginkan.
Filosofi
Filosofi mengenai Indonesia selain dapat terlihat dari gambar-gambar  dan animasi yang menunjukkan ciri khas Indonesia, juga berbentuk paparan tulisan (penjelasan) yang lengkap, yang terdapat dalam menu “Sekilas Indonesia”, yang didalamnya terdapat sub menu “Geografi Indonesia”,” Lambang dan Bentuk Negara” (Lambang Negara, Bentuk Negara, Bahasa Nasional, Bendera Kebangsaan, dan Lagu Kebangsaan), “Politik dan Pemerintahan”, serta “Visi Misi dan Strategi”.
Filosofi mengenai Thailand terdapat pada menu “Highlight Thailand” dengan sub menu “About Thailand”. Filosofi yang terdapat dalam penjelasan lengkap, seperti history (Sejarah), Geography (Geografis), Population, Religion, and Language (Populasi, agama, dan bahasa), Politics (politik), bahkan Thai Food (Makanan khas Thailand) pun ada di dalam penjelasan dalam menu tersebut.
Fasilitas
Fasilitas yang terdapat dalam website ini lengkap, seperti Layanan Publik, Berita Terbaru, Navigasi Berita, Topik Berita, info mengenai kontak Sekretariat Negara republik Indonesia, Video gallery sosial budaya Indonesia, info pengunjung, dan info-info lainnya yang terdapat dalam menu-menu utama seperti Sekilas Indonesia, Presiden dan wakil presiden, Kabinet Indonesia bersatu II, Produk hukum, Pidato, dan Istana.
Fasilitas yang terdapat dalam website ini lengkap, seperti government news, speech & press release, schedule of event, cabinet synopsis, dan info-info lainnya menu-menu utama seperti Government, Highlight Thailand, dan Non-Resident. Namun sayangnya, dalam website ini tidak terdapat fasilitas yang berupa audiovisual seperti video mengenai Thailand ataupun fasilitas audio yang berupa tampilan animasi.

Perbandingan Website Perusahaan (Corporate)
ASPEK
TELKOMSEL
www.telkomsel.com
ESIA
www.myesia.com
Warna
Warna dominan dalam website ini adalah putih. Warna putih merupakan warna netral, bermakna positif kebaikan, keadaan tak bersalah, kemurnian, segar, dan bersih. Namun memiliki makna negatif dingin dan kosong.  Meski demikian, kekosongan efek dari warna putih dalam website ini tertutupi dengan banyaknya gambar yang beraneka warna, dan sedikit warna tambahan merah menjadikan website ini lebih hidup.
Warna dominan dalam website ini adalah hijau. Warna hijau merupakan warna yang sejuk sehingga cenderung memberikan perasaan tenang bagi yang melihatnya. Warna hijau bermakna positif uang, pertumbuhan, kesuburan, kesegaran, dan healing. Namun memiliki makna negatif iri hati, kecemburuan, kesalahan, dan kekacauan. Ditambah dengan warna kuning yang bermakna positif cerdas, energy, kreativitas, akal, bahagia.  Namun bermakna negatif penakut, tidak bertanggung jawab, dan tidak stabil. Warna yang lebih beraneka pada website ini memberikan kesan ceria,namun ditambah dengan banyaknya warna pada gambar dan tulisan menjadikan website ini terkesan full (terlalu padat). 
Tampilan
Tampilan website menarik dengan adanya gambar-gambar dengan tampilan animasi di bagian tengah website dengan ukuran yang cukup besar. Letak dan susunan menu pun tertata dengan baik di bagian atas tepat dibawah logo perusahaan, serta info-info lainnya di bagian bawah. Ukuran tulisan standar (sedang) dengan warna yang kontras dengan backgroundnya sehingga memudahkan pengunjung untuk membacanya.
Tampilan website menarik dengan adanya gambar-gambar sebagai penunjang pada setiap info yang berbentuk tulisan. Letak dan susunan menu pun tertata dengan baik di bagian atas dengan tambahan icon pada menu menjadikan menu-menu tersebut lebih menarik. Serta info tambahan lainnya di bagian bawah, dengan logo perusahaan yang terdapat di atas dan bawah dari menu dan info. Sayangnya ukuran tulisan pada menu dan info tambahan agak kecil, namun tertolong dengan adanya kontras dengan background, sehingga tulisan masih bisa terbaca dengan jelas.
Filosofi
Filosofi pada website ini lengkap dan secara jelas di paparkan di dalam menu “Corporate” dengan tambahan gambar penunjang di dalamnya menjadikannya lebih menarik.
Filosofi pada website ini lengkap dan secara jelas di paparkan di dalam menu “Products” dengan tambahan gambar penunjang seperti contoh kartu dan kemasan perdana menjadikannya lebih menarik.
Fasilitas
Fasilitas yang terdapat dalam website ini lengkap, terdapat pada menu-menu utama, maupun info tambahan seperti lastest new, events, dan tampilan icon-icon yang dapat bergerak hanya dengan meletakkan kursor pada tanda panah dan pengunjung cukup mengklik icon yang diinginkannya, menjadikan pencarian info yang dibutuhkan lebih mudah.
Fasilitas yang terdapat dalam website ini lengkap, terdapat pada menu-menu utama, maupun info tambahan seperti layanan registrasi prabayar, contact, legalitas pengguna, dan sebagainya. Dan tampilan icon-icon pada menu utama menjadikan pengunjung lebih mudah mencari info, hanya dengan meletakkan kursor pada icon maka sub menu dari icon menu tersebut dapat terlihat, dan langsung bisa mengklik sub menu yang diinginkan.

 
Perbandingan Website Perorangan (Pribadi)
ASPEK
JENNIFER LOPEZ
www.jenniferlopez.ws
DEWI SANDRA
www.dewi-sandra.com
Warna
Website penyanyi luar negeri, Jennifer Lopez, berlatar abu-abu dengan dipadukan warna putih pada layoutnya, terkesan bersih dan simple bagi yang melihatnya, serta dipadukan dengan sedikit warna ungu, hitam, dan hijau menjadikan website in terlihat lebih fresh, elegan, dan terkesan mewah, tanpa meninggalkan kesan simplenya.
Website penyanyi dalam negeri, Dewi Sandra, berlatar putih terkesan bersih dan simple bagi yang melihatnya, dipadukan dengan warna hitam menjadikan website ini terksesan anggun dan modern.
Tampilan
Tampilan website ini menarik dengan adanya nama dan gambar sang penyanyi yang cukup besar di bagian atas web, dan foto-foto penyanyi cantik ini terpampang cukup banyak dengan ukuran yang lebih kecil di bagian lainnya dari web sebagai penunjang dari info-info yang di posting. Terdapat pula note dari sang penyanyi dan info yang sangat lengkap mengenai sang penyanyi.
Tampilan website ini menarik dengan adanya nama dan gambar sang penyanyi yang sangat besar di bagian atas web menjadikan website ini terlihat mewah. Namun sayangnya, info-info detail tidak terpampang di homepage penyanyi ini, menjadikannya terkesan hampa, karena hanya terdapat sedikit teks, yaitu bagian-bagian dari menu dalam web ini.
Fasilitas
Fasilitas dalam website ini cukup lengkap, seperti info mengenai sang penyanyi yang detail, postingan aktivitas sang penyanyi, berita, press archive, dan online. 
Fasilitas dalam website ini cukup lengkap yang terdapat dalam menu, seperti info mengenai sang penyanyi (about), blog, gallery, music, schedule, dan video yang dapat di share ke facebook dan twitter.

Senin, 28 November 2011

Pro dan Kontra Teknologi Internet, Dampak Psikologis Teknologi Internet & Rekomendasi Teknologi Internet yang Baik dan Aman Untuk Anak dan Remaja

Pro dan Kontra Teknologi Internet
Teknologi merupakan sehimpunan cara, peralatan, metode, informasi, dan pengorganisasian yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk (barang dan atau jasa) dan secara umum bertujuan untuk memecahkan persoalan tertentu (menjawab persoalan pragmatis) pada mulanya diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Salah satu teknologi yang telah berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi internet. Namun dalam perkembangan selanjutnya sering muncul pro dan kontra terhadap kehadiran teknologi ini.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah “apakah teknologi berpengaruh negatif atau positif dalam kehidupan manusia?”. Para Psikolog memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya. Artinya setiap produk teknologi, termasuk teknologi internet memiliki fungsi positif dan negatif yang sekaligus melekat pada waktu yang bersamaan. Seperti halnya sebuah pisau, fungsi positifnya dapat membantu manusia untuk memotong benda-benda yang besar sehingga lebih mudah untuk dibawa atau diolah. Namun efek negatifnya adalah bila digunakan secara keliru seperti mengancam jiwa orang lain atau bahkan membunuhnya. Begitu pula dengan teknologi internet, tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut.
Oleh karena itu memang tidak mudah untuk membuat penilaian apakah teknologi internet berdampak positif atau negatif, karena jawabanannya sangat tergantung dari sang pengguna teknologi tersebut.

Dampak Teknologi Internet Pada Anak dan Remaja
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, teknologi internet dapat berdampak positif maupun berdampak negatif tergantung dari sang pengguna teknologi. Namun apabila dilihat dari sisi psikologis, dampak ini akan berpengaruh terhadap beberapa aspek perkembangan anak dan remaja, yaitu perkembangan fisik, perkembangan sosial dan emosi, perkembangan inteligensi, dan perkembangan moral.
A. Dampak negatif teknologi internet Pada Anak dan Remaja
1. Pada perkembangan fisik
Interaksi antara pengguna (dalam hal ini anak dan remaja) dengan teknologi internet banyak mengurangi aktivitas gerak karena konsep dari teknologi adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga akan banyak mengurangi aktivitas fisiknya. Karena kurang bergerak, anak maupun remaja sering terjangkit obesitas yang dapat memicu ketidakseimbangan hormonal dan metabolism yang dapat menggiring terjadinya serangan jantung. Disamping itu, perkembangan fisik pun banyak mengalami physical decline. Contohnya adalah problem visual seperti kelelahan mata, sakit kepala atau bahkan penglihatan menjadi kabur. Hal ini disebabkan karena cahaya dan radiasi yang yang dipancarkan dari perangkat elektronik.

2. Pada perkembangan sosial, emosi, dan Kepribadian
Pada anak dan remaja, perkembangan emosi tidak lepas dari interaksinya dengan lingkungan sosial. Bila lingkungan sosial yang ada di sekeliling anak berupa lingkungan sosial yang “virtual” dan tidak pada kenyataannya, maka perkembangan emosinya pun cenderung tidak adekuat. Hal ini disebabkan karena umpanbalik dari lingkungan virtual dapat diatur sesuai dengan kehendak individu, sedangkan umpanbalik dari lingkungan nyata belum tentu sesuai dengan kehendak individu sehingga individu pun harus mengembangkan keterampilan sosial dan emosi untuk mengatasinya.
Saat ini telah dikembangkan berbagai jejaring sosial yang dapat mendukung terciptanya suatu lingkungan sosial “virtual”. Pada anak-anak dan remaja, pengaruh negatif dari jejaring sosial ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :
a. Hilangnya privasi
Tidak sebagaiamana orang dewasa, anak-anak dan remaja akan cenderung tidak mencantumkan identitas nyata dalam jejaring sosial yang mengakibatkan mereka rentan terhadap hilangnya privasi mereka serta kemungkinan abuse terhadap foto atau video yang kurang appropriate yang mereka posting didalam jejaring sosialnya.
b. Cyber-Bullying
Anak-anak dan remaja belum cukup matang untuk memahami dampak dari informasi yang dimunculkan dalam jejaring sosial sehingga banyak terjadi kasus perkelahian yang dimulai dari komentar atau status namun dianggap sebagai ejekan atau bullying melalui jejaring sosial.
c. Stranger-Danger
Anak-anak dan remaja masih kurang aware terhadap bahaya dari orang yang tak dikenal atau yang mengenal mereka namun memalsukan identitasnya dalam jejaring sosial. Menurut Pew Research Center, "32% dari remaja online telah dihubungi oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan 7% dari remaja online tersebut mengatakan mereka merasa takut atau tidak nyaman sebagai akibat dari kontak dengan orang yang tak dikenal secara online. Di Indonesia bahkan kasus remaja yang diculik dan kemudian diperkosa oleh orang tak dikenal melalui jejaring sosial banyak terjadi.
d. Cyber-Stalking
Kejujuran anak-anak dan remaja dalam jejaring sosial seperti melakukan posting tentang bagaimana rumah mereka, di mana sekolah mereka, menyebabkan orang asing yang berniat jahat sangat mudah untuk membuntuti atau bahkan membujuk mereka untuk bertemu muka dan akhirnya bisa melakukan tindak kejahatan terhadap mereka.
Beberapa interaksi anak dengan teknologi elektronik juga dapat berdampak pada perkembangan aspek emosi yang tidak adekuat. Bila teknologi elektronik seperti komputer dan koneksi internetnya digunakan tanpa kontrol yang baik, maka akan menyebabkan tingginya risiko untuk menjadi ketergantungan (addiction). Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain.
Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya. Padahal, menurut para Psikolog, hal ini tidak benar dan tidak sehat.
Michelle Weil, seorang Psikolog dan pengarang buku terkenal, memberikan contoh konkrit tentang seorang gadis yang dijauhi oleh teman-temannya lalu kemudian menghabiskan waktu untuk mojok berchatting ria dengan menampilkan karakter yang sangat kontradiktif dengan karakter aslinya. Akibatnya, lama kelamaan ia semakin jauh dengan kenyataaan sosial yang ada, bahkan tidak bisa menerima diri apa adanya. Menurut pakar psikoanalisa terkenal seperti Erich Fromm, kondisi demikian dinamakan neurosis. Kondisi neurosis yang berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang serius. Michelle lebih lanjut menambahkan, bahaya latennya adalah terbentuknya kepribadian online yang berbeda dengan yang asli.

3. Pada perkembangan inteligensi
Anak-anak jaman sekarang diduga menggunakan otak mereka secara berbeda dengan anak-anak pada generasi sebelumnya. Berarti cara pengajaran maupun evaluasi yang dilakukan saat ini pun belum tentu efektif untuk menggambarkan kecerdasan mereka.. Dampak negatif dalam inteligensi dibuktikan oleh Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi sinaptik pada Lincoln College, Oxford, dan direktur Royal Institution. Dia berpendapat bahwa anak-anak yang menggunakan teknologi internet secara berlebihan akan memiliki kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang perhatian, kebutuhan melakukan stimulasi secara segera atau tidak sabar, dan ‘rasa kebingungan dalam identitas’.
Selain itu teknologi internet juga berdampak pada penalaran kritis. Karena hampir semua informasi telah tersedia sehingga anak-anak pun menjadi kurang terampil dan cenderung berkonsentrasi hanya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama. Hal ini akan menyulitkan anak-anak untuk memecahkan masalah yang membutuhkan waktu pendek dan kompleks.
4. Pada perkembangan moral
Dampak dalam perkembangan moral terutama terjadi karena pemaparan pada situs-situs yang banyak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Banyak kasus tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada anak yang baik pelaku maupun korbannya adalah anak-anak dan remaja akibat beredarnya berbagai situs internet yang tidak dikontrol baik oleh para orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak di Indonesia.
Dampak negatif dalam perkembangan moral juga dapat terjadi karena adanya kesempatan untuk mengunduh isi situs tanpa ijin. Tidak sedikit orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mencuri bahkan mungkin memberikan hukuman bila ketahuan anaknya mencuri. Namun bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat teknologi, misalnya mengunduh secara illegal baik lagu maupun film dengan berbagai cara, maka hukuman pun tidak diberikan.
Secara umum efek teknologi terhadap perkembangan moral diulas oleh Susan Willard dari University of Oregon melalui 4 faktor utama yang muncul dalam interaksi antara anak dengan teknologi internet, yakni:
a. Lack of Affective Feedback and Remoteness from Harm
Dalam dunia nyata, suatu perilaku memiliki konsekuensi yang akan dirasakan langsung. Misalkan pada saat seorang anak bertemu anak lain dan melontarkan komentar negatif maka anak yang mengejek akan langsung menerima konsekuensi mulai dari jawaban penentangan sampai dengan perlawanan fisik bila anak yang diejeknya merasa tersinggung. Namun melalui komputer, perilaku negatif seperti di atas tidak akan secara langsung dirasakan dampaknya. Kondisi ini dapat menyebabkan anak mengembangkan perilaku moral yang tidak adekuat karena konsekuensi dari perilakunya sering tidak dirasakan secara langsung.
b. Reduced Fear of Risk of Detection and Punishment
Interaksi melalui komputer juga dapat dilakukan secara anonim atau dengan memalsukan identitas. Hal ini menyebabkan individu dengan mudah dapat menghindar dari hukuman atau tanggungjawab atas perilaku keliru yang dilakukannya.
c. New Environment Means New Rules
Dunia maya melalui internet nampak seperti sebuah lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan nyata di sekitar anak/remaja. Oleh karena itu anak sering beranggapan bahwa di dunia maya mereka boleh saja menerapkan aturan-aturan baru yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan dunia nyata, seperti saling mengejek atau membuat lelucon yang tanpa disadari bisa melukai hati atau menjadi suatu penghinaan terhadap orang lain.
d. Perceptions of Social Injustice and Corruption
Adanya internet menyebabkan individu yang merasa diperlakukan tidak adil berhak untuk memberikan perlawanan kembali melalui teknologi internet. Mulai dari menentang dengan mengemukakan pendapatnya, hacking sampai dengan membongkar segala hal yang dianggap rahasia namun berpotensi menimbulkan suatu ketidakadilan, sebagaimana kasus Wikileaks yang marak akhir-akhir ini. Oleh karena itu individu berpotensi untuk melakukan perlawanan yang di dalam dunia nyata membutuhkan aturan tertentu untuk mengemukakan ketidaksetujuannya tersebut.

B. Dampak Positif teknologi internet Pada Anak dan Remaja
Disamping berbagai dampak negatif, teknologi juga berdampak positif pada perkembangan anak dan remaja. Secara umum teknologi dapat mendorong tumbuhnya ‘rasa mampu’ pada anak disamping dapat digunakan sebagai ‘alat’ untuk memecahkan masalah (problem solving). Selain itu teknologi seperti internet juga sangat membantu anak untuk memperoleh informasi yang sangat luas. Permainan dengan menggunakan teknologi berupa perangkat games juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal prinsip-prinsip dasar dalam teamwork, kemampuan berbagi serta melatih eye-hand coordination. Namun secara rinci pengaruh positif teknologi internet terhadap berbagai aspek perkembangan anak dan remaja dapat diuraiakan sebagai berikut:
1. Pada perkembangan fisik
Salah satu dampak positif bila teknologi internet digunakan dengan tepat adalah adanya kemungkinan untuk melakukan aktivitas fisik secara lebih leluasa tanpa terlalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Seperti game yang menggunakan dancing pad misalnya, dapat dilakukan setiap saat di waktu senggang. Selain itu informasi tentang kesehatan lewat internet juga banyak memberikan dukungan terhadap gaya hidup sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Namun manfaat ini tidak bisa langsung diperoleh anak dan remaja karena keterbatasan mereka dalam memahami informasi kesehatan yang diperolehnya. Oleh karena itu tentu dibutuhkan pendampingan dari orang dewasa atau orangtua agar anak bisa menginterpretasikan informasi yang benar tentang masalah kesehatan yang dapat mendukung perkembangan fisiknya.
2. Pada perkembangan sosial, emosi, dan kepribadian
Banyak anak dan remaja dapat mengembangkan sense of power and accomplishment bila mereka mampu menggunakan komputer. Bila orang dewasa cenderung melakukan interaksi yang pertamakali dengan komputer karena alasan pekerjaan, maka pada umumnya anak dan remaja memulainya karena alasan bermain. Namun dari bermain itulah mereka dapat mengembangkan kreativitas, interaksi dengan teman sebaya, kemampuan berkomunikasi, bahkan memperkaya kemampuan berbahasa karena adanya kemungkinan untuk melakukan kontak dengan anak-anak dari belahan bumi yang saling berbeda.
Aspek perkembangan sosial dan emosi yang banyak didukung oleh adanya jejaring sosial melalui internet antara lain:
a. Relationship building & Cultural Awareness
Situs jejaring social memungkinkan anak-anak dan remaja untuk bertemu teman baru dari negara lain serta membantu mereka untuk menjadi lebih peka terhadap perbedaan budaya. Anak-anak dan remaja juga mampu untuk tetap dapat saling berhubungan atau membina hubungan kembali dengan teman-teman masa lalu yang mungkin telah lama tidak bertemu atau berpisah jauh.
b. Identity
Anak dan remaja dapat berbagi minat dengan anak lain, bergabung dengan suatu kelompok baru, mengembangkan kemandirian, terlibat dalam ekspresi diri yang positif dengan personalisasi halaman profil dan kemudian berpartisipasi dalam diskusi tentang topik-topik yang menarik bagi mereka. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam membangun sense of identity pada diri setiap anak.
c. Self-Esteem
Berkaitan dengan pembentukan identitas di atas, jaringan sosial juga mampu membantu anak dan remaja untuk membangun harga diri dan kepercayaan dirinya.
d. Battling Depression
Adanya dukungan sosial juga dapat sangat membantu anak, khususnya remaja, untuk mengatasi depresi yang dialaminya. Ada contoh kasus tentang Tamaryn Stevens, seorang remaja 17 tahun yang didiagnosis dengan penyakit ginjal saat dia berumur 10 tahun dan kemudian menjalani operasi transplantasi. Tamaryn menggunakan jejaring sosial bernama LiveWIRE setiap hari untuk chatting dengan teman online, mem-posting pemikiran dan bahkan meng-upload puisi ungkapan hatinya. Dia merasa sangat terbantu oleh dukungan teman-temannya melalui jejaring sosial tersebut untuk mengatasi depresinya dan membuat hari-harinya menjadi jauh lebih berbahagia.
Penggunaan (bukan kecanduan) internet juga berpengaruh positif terhadap kepribadian seseorang. Reid Steere, seorang Sosiolog dari Los Angeles mengatakan, jika seseorang menggunakan internet sebagai media eksplorasi diri dengan kesadaran penuh, ia akan mengalami pertumbuhan sebagai hasil dari refleksi dirinya secara utuh melalui internet.

3. Pada perkembangan inteligensi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang mendapatkan pelatihan berupa simulasi melalui komputer akan menunjukkan performa yang jauh lebih baik dalam prakteknya di dunia nyata dibandingkan dengan individu yang tidak melakukan simulasi. Anak-anak zaman sekarang juga lebih baik dalam melakukan multitasking dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini tampaknya berkaitan dengan peningkatan informasi visual yang harus diprosesnya pada saat bersamaan seperti saat mereka berinteraksi dengan teknologi komputer dan internet.

4. Pada perkembangan moral
Beberapa aksi kemanusiaan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar seperti bencana alam dapat diakses langsung oleh masyarakat luas, termasuk juga anak-anak dan remaja, yang menggunakan media elektronik dan internet. Aksi tersebut sering memicu tumbuhnya solidaritas untuk merasakan bahkan membantu individu lain yang sedang tertimpa musibah. Hal tersebut dapat mendorong perkembangan moral yang adekuat.

Rekomendasi Internet yang Baik dan Aman untuk Anak dan Remaja
Efek positif dan negatif yang seolah kontradiktif membuktikan bahwa dampak dari teknologi sangat tergantung dari penggunanya. Oleh karena itu kunci untuk menyeimbangkan efek positif dan negatif dari teknologi terhadap perkembangan anak dan remaja adalah dengan bimbingan yang tepat dan komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak. Sebuah skenario win-win solution perlu dilakukan, apabila orang tua mengijinkan anak-anak mereka untuk memaksimalkan pengaruh positif teknologi dan menyerap sebanyak mungkin manfaat teknologi. Sambil di sisi lain tentu saja tetap meminimalkan dampak negatifnya.
Salah satu hak dasar anak adalah hak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara lebih optimal. Mereka pun berhak untuk mendapatkan yang terbaik dari apa yang ditawarkan oleh teknologi, dan orangtua pun wajib untuk membimbing putra-putrinya agar dapat menggunakan teknologi dengan benar serta meningkatkan pengalaman belajarnya untuk mencapai hasil yang positif. Selain itu orang tua atau pengawas harus sempat meluangkan waktu untuk menemani si anak saat berselancar di dunia maya. Rasa ingin tahu anak-anak dan remaja kadang begitu luar biasa untuk dapat dibendung, jadi mendampinginya saat menjelajahi dunia maya adalah cara yang bijak untuk mendidik anak seputar internet dan membekali mereka langsung bagaimana menggunakan internet secara baik dan benar maupun tepat guna, walau sekadar untuk hiburan baginya. Oleh karena itu tips yang bisa dilakukan adalah:
• Orangtua harus tahu sedikit banyaknya seluk beluk internet, dan mengerti bagaimana cara memblok konten internet yang tidak tepat untuk anak.
• Tempatkan komputer di area keluarga/umum dan hindari menaruh komputer di ruang pribadi si anak, dan posisikan agar monitor komputer dapat diawasi dari berbagai sudut ruangan, ini memudahkan Anda mengawasi kegiatan daring (online) si anak.
• Sebaiknya batasi lama waktu berinternet dalam sehari.
• Berikan bookmarks/favorited situs-situs yang suka dikunjungi anak di internet untuk memudahkan akses.
• Jika anak melaporkan ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman selama berinternet, maka responslah anak dengan bersungguh-sungguh. Berikan perhatian pada rasa tidak nyamannya dan berikan solusi yang positif.

Referensi
http://lenidian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.2
Mulyadi, S. (2011). Seminar “dampak internet pada perkembangan remaja”. Depok: Universitas Gunadarma.

Minggu, 15 Mei 2011

Stres, Kaitan Stres dengan Psikologi Lingkungan, dan Pengaruh Stres terhadap Perilaku Individu

Definisi Stres
Istilah stres dikemukakan oleh Hans Selye yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain, istilah stres dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang disulut oleh berbagai faktor psikologis atau faktor psikologis atau faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut. Stres adalah beban mental yang oleh individu bersangkutan akan dikurangi atau dihilangkan (dalam Sarwono, 1992). Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak megancam kesejahteraan atau intergritas seseorang.
Stres tidak saja kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksi terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antar ketiganya (Prawitasari, 1989; dalam Prabowo, 1998). Fincham & Rhodes (1988) menyimpulkan stres merupakan gejala-gejala dan tanda-tanda faal, perilaku, psikologikal dan somatik, hasil dari tidak atau kurang adanya kecocokan antara orang (dalam arti kepribadiannya, bakatnya, dan kecakapannya) dan lingkungannya, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif. Namun pada umunya kita merasakan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang negatif, suatu kondisi yang mengarah ke timbulnya penyakit fisik ataupun mental, atau mengarah ke perilaku yang tak wajar. Selye membedakan antara distress yang destruktif (stres yang negatif), dan eustress, yang merupakan kekuatan yang merupakan kekuatan yang positif (stres yang positif).
Kaitan Stres dengan Psikologi Lingkungan
Ketika tidak mengalami stres, individu umumnya menggunakan banyak waktunya untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam keadaan seperti itu, ada waktu-waktu tertentu dimana kita sebenarnya justru mengalami stres. Bahkan suatu stres terkadang tidak terkait dengan masalah ketidakseimbangan (disekuilibrium). Ada waktu-waktu tertentu, dimana lingkungan menyajikan tantangan yang terlalu besar atau individu dapat menghilangkannya dengan kemampuan coping behavior. Di lain pihak, individu juga dapat mengalami keduanya. Pada kondisi inilah terjadi disekuilibrium yang bergantung dari proses-proses fisik, psikologis, dan fisiologis.
Hal lain yang belum dibahas adalah elemen-elemen lingkungan yang dapat mempengaruhi proses terjadinya disekuilibrium maupun ekuilibrium dalam kaitan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini stres bisa terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan copingnya. Sebuah situasi dapat terlihat sebagai suatu ancaman dan berbahaya secara potensial apabila melibatkan hal yang memalukan, kehilangan harga diri, kehilangan pendapatan, dan seterusnya (Heimstra & McFarling, 1978). Kita dapat merasakan suara di bawah kondisi tertentu dapat dipersepsi sebagai kebisingan dan bagaimana persepsi ini mempengaruhi respon psikologis dan fisiologis terhadap sumber kebisingan. Sama halnya ketika kita menghadapi elemen-elemen lingkungan lainnya seperti kondisi atmosfir, kepadatan penduduk, rancangan arsitektur, dan produk teknologi.
Dalam konteks lingkungan binaan, maka stres dapat muncul jika lingkungan fisik dan rancangan secara langsung atau tidak langsung menghambat tujuan penghuni, dan jika rancangan lingkungannya membatasi strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, maka hal itu merupakan sumber stres. Dalam mengulas dampak lingkungan binaan terutama bangunan terhadap stres psikologis, Zimring (1989) mengajukan dua pengandaian. Yang pertama, stres dihasilkan oleh proses dinamik ketika orang berusaha memperoleh kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan dan tujuan dengan apa yang disajikan oleh lingkungan. Proses ini dinamik karena kebutuhan-kebutuhan individual sangan bervariasi sepanjang waktu dan berbagai macam untuk masing-masing individu. Cara penyesuaian atau pengatasan masing-masing individu terhadap lingkungannya juga berbagai macam. Pengandaian yang kedua adalah bahwa variabel transmisi harus diperhitungkan bila mengkaji stres psikologis yang disebabkan oleh lingkungan binaan. Misalnya perkantoran, status, anggapan tentang kontrol, pengaturan ruang dan kualitas lain dapat menjadi variabel transmisi yang berpengaruh pada pandangan individu terhadap situasi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah situasi tersebut menimbulkan stres atau tidak. Hasil penelitian dari Levy dkk. (1984) ditemukan bahwa stres dapat timbul dari kondisi-kondisi yang bermacam-macam, seperti di tempat kerja, di lingkungan fisik, dan kondisi sosial. Stres yang timbul dari kondisi sosial bisa dari lingkungan rumah, sekolah, ataupun tempat kerja. Singkatnya, terdapat banyak aspek lingkungan yang dapat menciptakan stres.

Pengaruh Stres terhadap Perilaku Individu
Menurut Veitch & Arkkelin (1995) stres dicirikan sebagai proses yang membuka pikiran kita, sehingga kita akan bertemu dengan stresor, menjadi sadar akan bahaya, memobilisasi usaha kita untuk mengatasinya, mendorong untuk melawannya, serta yang membuat kita berhasil atau gagal dalam beradaptasi. Ketika suatu stresor kita evaluasi, kita seleksi strategi-strategi untuk mengatasinya, kita lakukan “pergerakan-pergerakan” tubuh secara fisiologis dan psikologis untuk melawan stresor, dan lalu mengatasinya dengan suatu tindakan. Jika coping behavior (perilaku penyesuaian diri) ini berhasil, maka adaptasi akan meningkat dan pengaruh stres akan menghilang. Sementara jika coping behavior gagal, individu merasa tidak berdaya atau tidak tahu lagi harus berbuat apa dalam menghadapi stres, maka stres akan menerus, pembangkitan fisik dan fisiologis tidak dapat dihindari sehingga penyakit fisik akan menyerang, bahkan akan timbul reaksi panik berkepanjangan yang bisa menjurus pada timbulnya gejala psikoneurosis (gangguan jiwa).
Stresor lingkungan, menurut Stokols (Brigham, 1991; dalam Prabowo 1998), merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan stres, penyakit, atau akibat-akibat negatif pada perilaku masyarakat. Stokols mengatakan bahwa apabila kesesakan tidak dapat diatasi, maka akan menyebabkan stres pada individu. Stres yang dialami individu dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung pada kemampuan individu dalam menghadapi stres. Individu yang mengalami stres umumnya tidak mampu melakukan interaksi sosial dengan baik, sehingga dapat menurunkan perilaku untuk membantu orang lain.
Namun, bagaimana hal tersebut bisa terjadi ?. Selye mengamati serangkaian perubahan biokimia dalam sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan lingkungan, ia mengidentifikasi tiga tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stres, yang diistilahkan General Adaptation Syndrome (GAS). Tahap pertama adalah alarm reaction dari sistem saraf otonom, termasuk di dalamnya peningkatan sekresi adrenalin, detak jantung, tekanan darah, dan otot menegang. Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai ancaman. Tahap ini bisa diartikan sebagai pertahanan tubuh dan tidak dapat bertahan lama. Selanjutnya tahap ini diikuti oleh tahap resistance atau adaptasi, yang di dalamnya termasuk berbagai macam respon coping secara fisik. Organisme memobilisasi sumber-sumbernya supaya mampu menghadapi tuntutan. Jika tuntutan berlangsung terlalu lama, maka sumber-sumber penyesuaian ini mulai habis dan organisme mencapai tahap akhir, yaitu tahap exhaustion atau kelelahan, akan terjadi kemudian apabila stresor datang secara intens dan dalam jangka waktu yang cukup lama, dan jika usaha-usaha perlawanan gagal untuk menyelesaikan secara adekuat, sehingga akhirnya mempengaruhi perilaku individu dalam lingkungan.
Jika diterapkan pada orang, maka sindrom adaptasi umum dari Selye dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: Jika seseorang untuk pertama kali mengalami situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan: kelanjar-kelenjar mengeluarkan atau melepaskan adrenalin, cortisone dan hormon-hormon lain dalam jumlah yang besar, perubahan-perubahan yang terkoordinasi berlangsung dalam sistem saraf pusat (tahap alarm). Jika exposure (paparan) terhadap pembangkit stres bersinambung dan badan mampu menyesuaikan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit. Reaksi badaniah yang khas terjadi untuk menahan akibat-akibat dari pembangkit stres (tahap resistance). Tetapi jika paparan terhadap stres berlanjut, maka mekanisme pertahanan badan secara perlahan-lahan menurun sampai menjadi tidak sesuai, dan satu dari organ-organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Proses pemunduran ini dapat mengarah ke penyakit dan hampir semua bagian dari badan (tahap exhaustion).
Menurut Iskandar (1990), proses terjadinya stres juga melibatkan komponen kognitif, sebagaimana diperjelas dalam gambar dibawah ini:

Stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah menaik, sebagai reaksi stimulus yang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stres akan memasuki tahapan kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stres. Dalam berbagai kasus, stimulus yang tidak menyenangkan tersebut muncul berkali-kali, sehingga reaksi terhadap stres menjadi berkurang dan melemah. Proses ini secara psikologis dikatakan sebagai adaptasi. Hal ini terjadi karena sensitivitas neuropsikologis semakin melemah dan melalui penelitian kognitif situasi stres tersebut berkurang (Iskandar, 1990).

Contoh dalam kehidupan sehari-hari :

Bangunan yang tidak memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial akan merupakan sumber stres bagi penghuninya. Apabila perumahan tidak memperhatikan kenyamanan penghuni, misalnya pengaturan udara yang tidak memadai, maka penghuni tidak dapat beristirahat dan tidur dengan nyaman. Akibatnya, penghuni seringkali lelah dan tidak dapat bekerja secara efektif dan ini akan mempengaruhi kesejahteraan fisik maupun mentalnya. Demikian pula apabila perumahan tidak memperhatikan kebutuhan rasa aman warga, maka hal ini akan berpengaruh negatif pula. Penghuni selalu waspada dan akan mengalami kelelahan fisik maupun mental.
Pembangunan perumahan yang tidak menyediakan tempat umum dimana para warga dapat berinteraksi satu sama lain akan membuat mereka sulit berhubungan satu sama lain. Atau perumahan yang tidak memperhatikan ruang pribadi masing-masing anggotanya akan dapat merupakan sumber stres bagi penghuninya.

Contoh Kasus
Salah satu contoh dari kepanikan massal yang ditimbulkan oleh masalah lingkungan, antara lain kasus Love Canal. Love Canal adalah sebuah daerah pemukiman di daerah air terjun Niagara, Amerika Serikat. Antara tahun 1947-1952 tempat itu adalah tempat pembuangan sisa-sisa bahan kimia dari perusahaan Hooker Chemicals and Plastic Corporation. Prosedur pembuangan sampah kimia sudah dilakukan menurut ketentuan yang berlaku pada saat itu sehingga dinilai tidak akan menimbulkan gangguan atau bahaya.
Pada tahun 1953, daerah bekas tempat pembuangan sampah itu dijual kepada Niagara School Board yang kemudian membangun sekolah dan pemukiman di tempat itu. Akan tetapi, pada awal tahun 70-an mulai dicurigai adanya kebocoran sampah kimia tadi yang mengganggu kesehatan pelajar maupun penduduk. Sejumlah pelajar dan penduduk mengeluh gatal-gatal, jumlah penderita kanker dilaporkan meningkat, dan jumlah keguguran serta bayi yang lahir cacat juga bertambah.
Keluhan-keluhan ini sebenarnya sulit dibuktikan karena catatan resmi tidak mendukungnya, tetapi masyarakat merasa perlu untuk melakukan sesuatu. Akhirnya, dibentuklah sebuah tim oleh sebuah badan bernama Environmental Protection Agency (EPA) untuk mengadakan penelitian dampak pencemaran lingkungan di Love Canal itu terhadap kesehatan penduduknya. Pada awal tahun 1980 hasil penelitian itu membuktikan bahwa pencemaran bahan kimia yang terjadi bisa mempengaruhi kromosom manusia sehingga dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan kesehatan seperti telah disebutkan diatas.
Sebagai reaksi terhadap penemuan EPA itu masyarakat memprotes dan menuntut pemerintah agar memindahkan pemukiman mereka. Pemerintah pun, atas instruksi presiden Carter, pada bulan Mei 1980 melaksanakan evakuasi terhadap sekitar 2.500 penduduk yang menelan biaya antara $3-5 juta. Pengungsian ini ternyata tidak meredakan stres penduduk yang sudah terlanjur panik. Pusat Kesehatan Masyarakat setempat telah berusaha untuk menempatkan petugas konseling serta menyebarkan buku-buku dan selebaran-selebaran untuk menerangkan bagaimana caranya mengatasi akibat yang tidak dikehendaki dari keracunan itu, tetapi hasilnya hampir tidak ada. Jumlah yang mau datang untuk konseling hanya kurang dari 100 orang.
Stres yang berkelanjutan ini cukup mengherankan karena ternyata setelah Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia (Department of Health and Human Services) menguji hasil penelitian EPA, terbukti bahwa hasil penelitian itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena EPA membuat penelitian itu bukan untuk tujuan mencari pembuktian ilmiah, melainkan sekadar mencari pembuktian hukum untuk dapat menyeret perusahaan Hooker ke pengadilan dengan maksud meminta ganti rugi. Tidak diduga sama sekali bahwa akibatnya adalah kepanikan masyarakat yang berkepanjangan. Seorang petugas Palang Merah setempat bahkan menyatakan bahwa stres yang ditimbulkan oleh gempa bumi atau gunung meletus dapat lebih mudah diatasi karena cepat berlalu daripada stres yang terjadi di Love Canal yang kronis walaupun bahayanya tidak nyata, namun sulit begitu saja dihilangkan walaupun sudah diberikan rangsang-rangsang dan informasi-informasi baru yang dimaksudkan untuk membatalkan kesan persepsi yang lama. (dalam Sarwono, 1992).

Referensi:
Prabowo, H. (1998). Arsitektur, psikologi, dan masyarakat. Depok: Gunadarma
Sarwono, S.W. (1992). Psikologi Lingkungan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Senin, 25 April 2011

Ruang Personal (Personal Space), Privasi (Privacy), Teritorialitas (Territoriality).

Ruang Personal (Personal Space)

Manusia mempersepsikan ruang disekitarnya lengkap dengan isinya, tidak berdiri sendiri. Jika isi ruang itu adalah manusia lain maka orang langsung akan membuat suatu jarak tertentu antara dirinya sendiri dengan orang lain itu dan jarak itu sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas hubungan antar orang itu.
Ungkapan dalam kalimat sehari-hari dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya kualitas hubungan antar manusia yang terjadi. Misalnya seorang karyawan mengatakan pada rekannya, “Bapak Direktur kita yang baru, masih termasuk keluarga dekat dengan saya.” Kalimat ini berarti bahwa sekalipun di kantor karyawan itu harus menjaga jarak antara dirinya sendiri dengan Bapak Direktur, tetapi di rumah ia bisa lebih bebas ngobrol sambil berposisi berdekatan dengan Bapak Direktur itu. Atau jika seorang suami mengatakan kepada istrinya, “Aku akhir-akhir ini merasa makin jauh dari kamu.” Itu berarti bahwa ia merasa bahwa istrinya tidak mau didekatinya lagi secara fisik sampai batas tertentu. Padahal sebelumnya sang suami tidak ada masalah dalam hal kedekatan fisik dengan istrinya.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kehidupan sehari-hari jarak yang diperkenankan oleh seseorang terhadap orang (orang-orang) lainnya bergantung sekali pada bagaimana sikap dan pandangan orang yang bersangkutan terhadap orang (orang-orang) lainnya itu. Makin merasa akrab dia, makin dekatlah jarak yang diperkenankannya. Sebaliknya, lawan bicaranya itu juga bisa memperkirakan bagaimana sikap dan pandangan orang pertama itu terhadap dirinya dan cara si orang pertama itu menjaga jarak. Kalau reaksinya ketika didekati justru ia makin menjauhkan diri, itu berarti ia kurang suka kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, kalau reaksi waktu didekati malah makin memperdekat jarak, artinya orang itu bersedia untuk berhubungan akrab. Dengan kata lain, dalam psikologi lingkungan, jarak antar individu ini adalah juga sarana komunikasi.
Sebagai sarana komunikasi antar individu inilah persepsi ruang seseorang dinamakan ruang personal (personal space). J.D Fisher dkk, mendefinisikan personal space sebagai suatu batas maya yang mengelilingi diri kita yang tidak boleh dilalui oleh orang lain.
Definisi itu ternyata sangat mirip dengan yang diajukan oleh Holahan. Jadi, personal space itu seolah-olah merupakan sebuah balon atau tabung yang menyelubungi diri kita dan tabung itu membesar dan mengecil bergantung dengan siapa kita sedang berhadapan. Menurut Hall (1963), ada 4 macam jarak personal space, yaitu:
1. Jarak intim (0 – 18 inci / 0 – 0,5 m), yaitu jarak untuk berhubungan seks, untuk saling merangkul antar kekasih, sahabat, atau anggota keluarga, atau untuk melakukan olahraga kontak fisik seperti gulat dan tinju.
2. Jarak personal (18 inci – 4 kaki / 0,5 – 1,3 m), yaitu jarak untuk percakapan antara dua sahabat atau antar orang yang sudah saling akrab.
3. Jarak sosial (4 – 12 kaki / 1,3 – 4 m), yaitu untuk berhubungan yang bersifat formal seperti bisnis, dan sebagainya.
4. Jarak publik (12 – 25 kaki / 4 – 8,3 m), yaitu untuk hubungan yang lebih formal lagi seperti penceramah atau aktor dengan hadirinnya.
Selanjutnya Hall mengatakan bahwa fungsi personal space ini sebagai alat komunikasi bisa diteliti secara khusus. Ilmu untuk meneliti personal space ini dinamakan proxemics (proxy = jarak), yaitu ilmu tentang space sebagai media hubungan antar manusia. Salah satu metode yang dipakai dalam proxemics adalah prosedur stop-jarak, yaitu orang percobaan (o.p) diminta untuk duduk atau berdiri di suatu tempat tertentu dan orang lain diminta untuk mendekatinya secara bertahap (makin lama makin mendekat). Jika o.p sudah merasa terganggu atau kurang senang maka ia harus menyuruh orang lain itu berhenti dan pemimpin percobaan (p.p) akan mencatat jarak antara o.p dan orang lain itu pada saat dia dihentikan. Jarak inilah yang menunjukkan personal space dari o.p terhadap orang yang bersangkutan. Sekali lagi, ternyata jarak itu bervariasi bergantung siapa yang mendekati o.p dan dalam keadaan apa o.p didekati serta siapakah o.p itu sendiri.
Heshka dan Nelson (1972) melaporkan bahwa salah satu penentu perbedaan jarak dalam personal space yang bergantung pada diri individu itu sendiri adalah jenis kelamin dari individu yang bersangkutan. Wanita maupun pria sama-sama membuat jarak dengan lawan bicara yang berlainan jenis kelaminnya. Sebaliknya dalam hal lawan bicaranya sesama jenis, wanita akan mengurangi jarak personal spacenya jika lawan bicaranya itu akrab. Semakin akrab semakin kecil jarak personal spacenya. Akan tetapi, pada laki-laki keakraban antar sesama jenis tidak berpengaruh pada personal space. Dengan kata lain, pada laki-laki jarak itu akan sama saja, terlepas daripada kadar keakraban hubungan antar orang yang bersangkutan.
Faktor umur juga berpengaruh pada personal space seseorang. Pada umumnya, makin bertambah umur seseorang, makin besar jarak personal space yang akan dikenakannya pada orang-orang tertentu. Pada remaja misalnya, personal space terhadap lawan jenis akan lebih besar daripada anak-anak. Sebaliknya, anak-anak akan membuat jarak yang lebih besar dengan orang yang tidak dikenal daripada remaja atau orang dewasa.
Pada usia berapakah personal space ini mulai timbul pada diri seseorang ? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Duke dan Wilson (1973) serta Ebert dan Lepper (1975) menyatakan berdasarkan penelitian-penelitian mereka, bahwa personal space itu mulai timbul pada usia 45-63 bulan. Akan tetapi, penelitian-penelitian lain menunjukkan usia yang lebih tinggi. Altman (1975) menyatakan bahwa personal space itu baru tumbuh pada usia remaja.
Selanjutnya dibuktikan juga bahwa tipe kepribadian itu sendiri berpengaruh pada personal space seseorang. Duke dan Nowicki menyatakan bahwa orang dengan tipe kepribadian eksternal (merasa bahwa segala sesuatu lebih ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya sendiri) memerlukan jarak personal space yang lebih besar dibandingkan orang bertipe internal (merasa bahwa segala sesuatu lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri).
Dalam penelitian lain, Cook (1970) juga mengemukakan bahwa orang bertipe ekstrovert (lebih terbuka terhadap orang lain) memerlukan jarak personal space yang lebih kecil daripada tipe introvert (lebih berorientasi pada diri sendiri).
Selanjutnya Holahan melaporkan bahwa latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang juga mempengaruhi personal spacenya. Misalnya, orang Jerman lebih formal dalam berkomunikasi dengan orang lain dan karenanya mereka lebih menjaga jarak. Jika personal space mereka terganggu, sikap mereka menjadi ofensif. Di pihak lain, orang Inggris juga menjaga personal space dalam jarak yang jauh, tetapi lebih disebabkan oleh keinginan mereka untuk tidak mengganggu personal space orang lain. Mereka berbicara berbisik-bisik dengan temannya jika ada orang ketiga yang ingin mereka jaga personal spacenya. Akan tetapi, perbuatan ini oleh orang Amerika justru dianggap tidak menyenangkan karena bisa disangka sedang membicarakan suatu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang ketiga tersebut.
Orang Arab lain lagi, dalam berkomunikasi mereka harus sangat berdekatan. Dengan sesama jenis, kaum lelakinya saling merangkul dan mencium, bahkan mencium bau badan lawan bicaranya merupakan bagian yang diharuskan dalam komunikasi.
Akhirnya, variasi dalam personal space ini ternyata dipengaruhi juga oleh keadaan lingkungan dimana orang-orang yang sedang berinteraksi itu berada. Dalam ruang yang sempit diperlukan jarak lebih lebar daripada ruang yang luas. Penyekat ruangan bisa mengurangi perasaan invasi terhadap personal space. Dalam keadaan gelap orang cenderung untuk saling menyentuh.

Hubungan antara ruang personal dengan lingkungan

Hubungan antara Ruang Personal dengan lingkungan adalah dimana ruang personal ini berkaitan dengan batas-batas yang ada di sekeliling orang dimana jika batas ini terganggu atau ada ketidaknyaman dalam diri seseorang akan mengakibatkan lingkungan yang berada di sekitarnya pasti terganggu. Contohnya : seseorang yang masuk ke dalam bus tapi, mengganggu penumpang lain tentunya akan mengakibatkan, penumpang lainnya terganggu.
Dari penjabaran di atas tentunya dapat disimpulkan bahwa privasi, teknik territorial, dan ruang personal sangat erat kaitannya dengan lingkungan sekitar, dan dapat pula menyebabkan ketidakyamanan jika tidak digunakan dengan baik.

Privasi (Privacy)

Di atas telah dikatakan bahwa orang Jerman cenderung untuk menjaga jarak dengan lawan bicaranya. Personal space yang besar ini ternyata sesuai pula dengan kecenderungan mereka untuk membuat pintu-pintu yang tebal dan ruangan-ruangan kedap suara. Maksudnya agar mereka bisa mengurangi gangguan dari luar terhadap dirinya sampai ke tingkat yang paling minimal. Dalam psikologi lingkungan, gejala ini dinamakan privacy.
Privacy adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya. Jika kita meminjam istilah psikoanalisis, privacy berarti dorongan untuk melindungi ego seseorang dari gangguan yang tidak dikehendakinya.
Holahan pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis-jenis privacy (privacy preference scale) dan ia mendapatkan bahwa ada 6 jenis dalam privacy yang terbagi dalam dua golongan.
1. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik. Golongan ini terwujud dalam tingkah laku menarik diri (withdrawal) yang terdiri atas 3 jenis:
a. Keinginan untuk menyendiri (solitude).
b. Keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas (seclusion).
c. Keinginan untuk intim (intimacy) dengan orang-orang (misalnya dengan keluarga) atau orang tertentu saja (misalnya dengan pacar), tetapi jauh dari semua orang lainnya.
2. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu (control of information). Tiga jenis privacy yang termasuk dalam golongan ini adalah:
a. Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anonimity);
b. Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve); dan
c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring).
Khusus golongan kedua dari jenis-jenis privacy ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk merahasiakan sesuatu tentang diri sendiri. Namun antara privacy dan kerahasiaan (secrecy) ada perbedaan yang hakiki. Menurut Warren dan Laslett (1977), perbedaan antara kedua konsep itu adalah privacy merupakan kosensus masyarakat dan merupakan hak individu yang diakui oleh masyarakat, sedangkan secrecy lebih mempunyai konotasi negatif, tidak disukai masyarakat dan tidak ada kaitannya dengan hak individu.
Dari uraian diatas nampak bahwa privacy ini merupakan inti dari personal space. Menurut Holahan, privacy adalah hasrat atau kehendak untuk mengontrol akses fisik maupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak orang lain, sedangkan personal space adalah perwujudan privacy itu dalam bentuk ruang (space). Dengan demikian, privacy ini juga mempunyai fungsi dan merupakan bagian dari komunikasi. Misalnya Holahan mengatakan bahwa adanya kemungkinan untuk sewaktu-waktu mengundurkan diri atau menghindar dari seseorang yang tidak disukai akan menyebabkan hubungan dengan orang yang tidak disukai itu bisa lebih bertahan daripada jika kemungkinan untuk menghindar itu sama sekali tidak ada.
Selain itu, privacy juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi, yaitu mengenal diri sendiri dan menilai diri sendiri. Jika privacy ini terganggu, apalagi secara terus-menerus, akan terjadi proses ketelanjangan sosial, yaitu merasa semua orang tahu tentang rahasia diri sendiri sehingga timbul rasa malu menghadapi orang lain. Selain itu, juga terjadi proses deindividuasi dimana orang merasa bahwa individunya sudah tidak dihargai lagi karena itu ia pun tidak peduli pada harga diri sendiri maupun harga diri orang lain. Gejala seperti ini terjadi misalnya pada orang (misalnya artis) yang kisah-kisah pribadinya digosipkan atau pasien-pasien rumah sakit jiwa yang terus-menerus diobservasi selama 24 jam, diperiksa secara fisik dengan rutin dan toilet-toilet sengaja dibuat tak berpintu (gangguan terhadap akses fisik).

Hubungan antara Privasi dengan Lingkungan

Berikut akan dijelaskan tentang Privasi ternyata berpengaruh terhadap situasi lingkungan , dimana ketika ada seseorang yang memiliki tingkat privasi yang tinggi terhadap masalah yang sedang ia alami maka, orang tersebut cenderung ingin memisahkan diri dari lingkungannya dan cenderung, mencari tempat dimana ia bisa menyendiri. Tentunya lingkungan sekitarnya pun akan mengalami perubahan, perubahan terjadi yang paling mencolok adalah keluarganya. Keluarga pasti bertanya-tanya dengan masalah apa yang sedang dialami, tetapi ia tertutup dengan masalahnya. Lain halnya dengan seseorang yang memiliki privasi yang rendah terhadap masalah yang ia alami maka, orang tersebut cenderung mau berbagi terhadap orang dekatnya, baik keluarga ataupun teman-temannya, sehingga lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanannya tau keadaan orang tersebut. Tapi, privasi yang tinggi dan rendah memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam penilaian hubungannya dengan lingkungan. Biasanya kita tidak terlalu menyukai orang-orang yang terlalu terbuka atau tertutup dalam kehidupan sehari-hari, tapi kita lebih menyenangi orang yang dapat mengimbangi antara keterbukaan dan ketertutupan dalam menghadapi masalah, sehingga ia dapat mengatur privasinya dalam berinteraksi di dalam lingkungan masyarakat.

Teritorialitas (Territoriality)

Hal yang erat hubungannya dengan privacy dan personal space adalah territoriality (teritorialitas). Sama dengan personal space, teritorialitas adalah juga perwujudan ego yang tidak ingin diganggu. Dengan kata lain perwujudan privacy.
Akan tetapi, jika personal space merupakan kapsul maya yang berpindah-pindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan, teritorialitas merupakan tempat yang nyata, relatif tetap, dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan. Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Kamar tidur di rumah adalah teritori penghuninya. Jika ada orang yang tidak diundang masuk ke kamar tidur itu walaupun si penghuni sedang tidak di rumah maka penghuni itu akan tersinggung rasa teritorialitasnya dan ia akan marah. Demikian pula jika di lapangan parkir sebuah kantor sudah terpampang papan bertuliskan “Direktur” di salah satu tempat parkir maka orang lain diharapkan untuk tidak memarkir kendaraannya di tempat itu karena tempat itu sudah merupakan teritori Bapak Direktur. Contoh lain adalah bangku-bangku di ruang kuliah atau gedung bioskop. Kalau orang yang menempati bangku itu ingin pergi sebentar dan ia tidak ingin ada orang lain menempati bangkunya sementara ia pergi maka ia akan meninggalkan sesuatu (misalnya buku catatan, tas, map, tiket) di atas bangku itu. Orang lain yang melihat benda yang ditinggalkan itu diharapkan tahu bahwa bangku itu sudah menjadi teritori orang lain sehingga tidak boleh diduduki.
Dari uraian diatas dapatlah didefinisikan teritorialitas sebagai berikut, “Teritorialitas adalah suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas sebuah tempat atau suatu lokasi geografis. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar.”
Fisher (1984) menyatakan bahwa kepemilikan atau hak dalam teritorialitas ditentukan oleh persepsi dari orang atau orang-orang yang bersangkutan sendiri. Persepsi itu bisa aktual (memang nyatanya ia benar memiliki), tetapi juga bisa hanya merupakan kehendak untuk menguasai atau mengontrol suatu tempat. Tingkah laku teritorialitas terhadap kamar tidur, ruang kantor, atau batas wilayah negara misalnya, adalah tergolong aktual. Namun, teritorialitas terhadap bangku kuliah atau suatu tempat dibawah pohon rindang di Kebun Raya lebih merupakan kehendak untuk menguasai saja. Masalahnya, aktualisasi persepsi ini bisa sangat subjektif. Misalnya, jika seorang penghuni liar di perkampungan kumuh di sebuah kota besar diharuskan meninggalkan gubuknya, ia tidak akan mau karena ia merasa gubuknya itu sudah menjadi teritorinya karena ia sudah menghuni tempat itu bartahun-tahun tanpa ada yang mengusiknya. Padahal menurut ketentuan Dinas Tata Kota, kepemilikan harus dibuktikan dengan dokumen-dokumen tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. Disinilah akan timbul konflik teritori antar pihak yang berselisih. Jika yang berselisih itu adalah dua bangsa yang memperebutkan teritori untuk wilayah suatu negara maka bisa terjadi perang, misalnya perang antar Arab-Israel atau Perang Teluk antara Irak dan pasukan sekutu yang membantu Kuwait (tahun 1991).
Konflik-konflik teritorialitas bisa terjadi karena memang manusia cenderung bertingkah laku tertentu dalam mewujudkan kepemilikan atau haknya atas teritori tertentu. Beberapa tingkah laku itu, antara lain menyatakan kepada orang lain bahwa suatu tempat adalah memang miliknya atau haknya. Selanjutnya ia merasa hanya dirinya sendiri sajalah yang berhak untuk melakukan sesuatu atas teritori itu. Kadang-kadang ia membari ciri pribadinya terhadap teritori itu, seperti memberi nama (misalnya memancangkan papan bertuliskan “Direktur” di tempat parkir) dan memberi ciri khas pada tempat itu (misalnya menghias ruang kantornya atau mengecat rumahnya sesuai dengan seleranya).
Setelah itu ia mengembangkan pikiran-pikiran dan kepercayaan-kepercayaan tentang teritori, misalnya percaya bahwa tanah yang dihuninya adalah warisan nenek moyangnya sejak zaman Majapahit atau menganggap bahwa negaranya adalah yang paling molek di seluruh dunia, atau merasa bahwa ia yang paling berhak atas bangku kuliah yang terdepan walau datang terlambat karena biasanya ia yang paling pagi datang di ruang kuliah dan biasanya duduk di bangku terdepan itu. Akhirnya setelah keyakinan-keyakinan ini berkembang, orang akan melakukan tindakan untuk mempertahankan teritorinya itu. Disinilah terbuka kemungkinan untuk terjadi konflik dengan orang lain yang bermaksud mengintervensi teritori itu.
Menurut Ley dan Cibriwsky (1976), kecenderungan agresivitas teritorial pada manusia memang lebih besar daripada hewan. Kecenderungan itu akan menjadi paling besar pada situasi-situasi dimana batas-batas teritori tidak jelas atau bisa dipermasalahkan. Itulah sebabnya perkelahian antar gang anak remaja di kota-kota besar lebih sering terjadi jika wilayah kekuasaan mereka tidak jelas. Sebaliknya, jika batas teritori itu jelas dan disepakati oleh semua pihak terkait maka agresivitas atau konflik teritorial akan jauh lebih sedikit.
Jika tingkah laku teritorialitas pada manusia berintikan pada privacy maka tingkah laku teritorialitas pada hewan mempunyai dasar yang agak berbeda. Fungsi teritorialitas pada hewan menurut Fisher adalah untuk survival, yaitu dorongan untuk mempertahankan hidup dan mempertahankan jenis. Tingkah laku teritorialitas hewan ini, antara lain membuat atau mendiami tempat hunian, menyimpan bahan makanan di tempat tertentu, mencai atau mengumpulkan makanan dari suatu area tertentu, dan melindungi anak-anak hewan dari serangan binatang atau makhluk lain. Oleh K. Lorenz (1976), dorongan yang mendasari tingkah laku teritori pada hewan ini dinamakan naluri teritori.
Dengan demikian, teritorialitas pada manusia mempunyai fungsi lebih tinggi daripada sekedar fungsi survival. Namun, pada manusia pu teritorialitas ini tidak hanya berfungsi sebagai perwujudan privacy saja. Lebih jauh lagi teritorialitas juga mempunyai fungsi sosial dan komunikasi, sama halnya dengan personal space. Fungsi sosial dari teritorialitas misalnya nampak dalam pertemuan-pertemuan resmi dimana sudah ditentukan tempat duduk setiap orang sesuai dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan masing-masing. Seorang pegawai biasa tidak akan berani duduk di barisan paling depan walaupun tempat itu kosong karena bapak-bapak pejabat belum hadir. Begitu juga seorang anak tidak akan berani duduk di kursi ayah di meja makan karena kursi itu dianggap melambangkan status kepala keluarga di rumah. Oleh karena itu, teritorialitas juga mencerminkan lapisan-lapisan kelas sosial dalam masyarakat.
Sebagai media komunikasi, sama halnya dengan personal space, teritori juga terbagi dalam beberapa golongan. Penggolongan yang diajukan oleh Altman adalah sebagai berikut:
1. Teritori primer, yaitu tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab hubungannya atau yang sudah mendapat ijin khusus. Misalnya rumah dan ruangan kantor.
2. Teritori sekunder, yaitu tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Misalnya, ruang kelas, kantin khusus di kantor, dan ruang latihan untuk suatu klub olahraga atau kesenian.
3. Teritori publik, yaitu tempat-tempat terbuka untuk umum, dimana pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat itu. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, dan ruang sidang pengadilan yang dinyatakan terbuka untuk umum.

Hubungan antara Teritorialitas dengan Lingkungan

Hubungan antara Teknik Teritorial dengan lingkungan dimana territorial terbagi atas 3 bagian : territorial primer, sekunder, dan umum. Primer contohnya adalah ruang kerja, ruang tidur, dimana jika seseorang memiliki ruang kerja yang tidak teratur, maka juga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan di lingkungan sekitarnya walaupun tingkat ketidaknyamanannya tidak terlalu tinggi, territorial sekunder contohnya, toilet yang sifatnya semi public dimana daerah tersebut sering dikunjungi oleh banyak orang apabila keadaan toilet tidak bersih, juga akan mengakibatkan lingkungan masyarakat merasa tidak nyaman. Territorial umum contohnya adalah antrian karcis yang jika tidak antri atau tidak menaati tata tertib pembelian karcis maka, akan mengakibatkan perselisihan yang dapat menimbulkan lingkungan masyarakat terganggu.

Ruang Personal (Personal Space), Privasi (Privacy), Teritorialitas (Territoriality).

Ruang Personal (Personal Space)

Manusia mempersepsikan ruang disekitarnya lengkap dengan isinya, tidak berdiri sendiri. Jika isi ruang itu adalah manusia lain maka orang langsung akan membuat suatu jarak tertentu antara dirinya sendiri dengan orang lain itu dan jarak itu sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas hubungan antar orang itu.
Ungkapan dalam kalimat sehari-hari dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya kualitas hubungan antar manusia yang terjadi. Misalnya seorang karyawan mengatakan pada rekannya, “Bapak Direktur kita yang baru, masih termasuk keluarga dekat dengan saya.” Kalimat ini berarti bahwa sekalipun di kantor karyawan itu harus menjaga jarak antara dirinya sendiri dengan Bapak Direktur, tetapi di rumah ia bisa lebih bebas ngobrol sambil berposisi berdekatan dengan Bapak Direktur itu. Atau jika seorang suami mengatakan kepada istrinya, “Aku akhir-akhir ini merasa makin jauh dari kamu.” Itu berarti bahwa ia merasa bahwa istrinya tidak mau didekatinya lagi secara fisik sampai batas tertentu. Padahal sebelumnya sang suami tidak ada masalah dalam hal kedekatan fisik dengan istrinya.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kehidupan sehari-hari jarak yang diperkenankan oleh seseorang terhadap orang (orang-orang) lainnya bergantung sekali pada bagaimana sikap dan pandangan orang yang bersangkutan terhadap orang (orang-orang) lainnya itu. Makin merasa akrab dia, makin dekatlah jarak yang diperkenankannya. Sebaliknya, lawan bicaranya itu juga bisa memperkirakan bagaimana sikap dan pandangan orang pertama itu terhadap dirinya dan cara si orang pertama itu menjaga jarak. Kalau reaksinya ketika didekati justru ia makin menjauhkan diri, itu berarti ia kurang suka kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, kalau reaksi waktu didekati malah makin memperdekat jarak, artinya orang itu bersedia untuk berhubungan akrab. Dengan kata lain, dalam psikologi lingkungan, jarak antar individu ini adalah juga sarana komunikasi.
Sebagai sarana komunikasi antar individu inilah persepsi ruang seseorang dinamakan ruang personal (personal space). J.D Fisher dkk, mendefinisikan personal space sebagai suatu batas maya yang mengelilingi diri kita yang tidak boleh dilalui oleh orang lain.
Definisi itu ternyata sangat mirip dengan yang diajukan oleh Holahan. Jadi, personal space itu seolah-olah merupakan sebuah balon atau tabung yang menyelubungi diri kita dan tabung itu membesar dan mengecil bergantung dengan siapa kita sedang berhadapan. Menurut Hall (1963), ada 4 macam jarak personal space, yaitu:
1. Jarak intim (0 – 18 inci / 0 – 0,5 m), yaitu jarak untuk berhubungan seks, untuk saling merangkul antar kekasih, sahabat, atau anggota keluarga, atau untuk melakukan olahraga kontak fisik seperti gulat dan tinju.
2. Jarak personal (18 inci – 4 kaki / 0,5 – 1,3 m), yaitu jarak untuk percakapan antara dua sahabat atau antar orang yang sudah saling akrab.
3. Jarak sosial (4 – 12 kaki / 1,3 – 4 m), yaitu untuk berhubungan yang bersifat formal seperti bisnis, dan sebagainya.
4. Jarak publik (12 – 25 kaki / 4 – 8,3 m), yaitu untuk hubungan yang lebih formal lagi seperti penceramah atau aktor dengan hadirinnya.
Selanjutnya Hall mengatakan bahwa fungsi personal space ini sebagai alat komunikasi bisa diteliti secara khusus. Ilmu untuk meneliti personal space ini dinamakan proxemics (proxy = jarak), yaitu ilmu tentang space sebagai media hubungan antar manusia. Salah satu metode yang dipakai dalam proxemics adalah prosedur stop-jarak, yaitu orang percobaan (o.p) diminta untuk duduk atau berdiri di suatu tempat tertentu dan orang lain diminta untuk mendekatinya secara bertahap (makin lama makin mendekat). Jika o.p sudah merasa terganggu atau kurang senang maka ia harus menyuruh orang lain itu berhenti dan pemimpin percobaan (p.p) akan mencatat jarak antara o.p dan orang lain itu pada saat dia dihentikan. Jarak inilah yang menunjukkan personal space dari o.p terhadap orang yang bersangkutan. Sekali lagi, ternyata jarak itu bervariasi bergantung siapa yang mendekati o.p dan dalam keadaan apa o.p didekati serta siapakah o.p itu sendiri.
Heshka dan Nelson (1972) melaporkan bahwa salah satu penentu perbedaan jarak dalam personal space yang bergantung pada diri individu itu sendiri adalah jenis kelamin dari individu yang bersangkutan. Wanita maupun pria sama-sama membuat jarak dengan lawan bicara yang berlainan jenis kelaminnya. Sebaliknya dalam hal lawan bicaranya sesama jenis, wanita akan mengurangi jarak personal spacenya jika lawan bicaranya itu akrab. Semakin akrab semakin kecil jarak personal spacenya. Akan tetapi, pada laki-laki keakraban antar sesama jenis tidak berpengaruh pada personal space. Dengan kata lain, pada laki-laki jarak itu akan sama saja, terlepas daripada kadar keakraban hubungan antar orang yang bersangkutan.
Faktor umur juga berpengaruh pada personal space seseorang. Pada umumnya, makin bertambah umur seseorang, makin besar jarak personal space yang akan dikenakannya pada orang-orang tertentu. Pada remaja misalnya, personal space terhadap lawan jenis akan lebih besar daripada anak-anak. Sebaliknya, anak-anak akan membuat jarak yang lebih besar dengan orang yang tidak dikenal daripada remaja atau orang dewasa.
Pada usia berapakah personal space ini mulai timbul pada diri seseorang ? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Duke dan Wilson (1973) serta Ebert dan Lepper (1975) menyatakan berdasarkan penelitian-penelitian mereka, bahwa personal space itu mulai timbul pada usia 45-63 bulan. Akan tetapi, penelitian-penelitian lain menunjukkan usia yang lebih tinggi. Altman (1975) menyatakan bahwa personal space itu baru tumbuh pada usia remaja.
Selanjutnya dibuktikan juga bahwa tipe kepribadian itu sendiri berpengaruh pada personal space seseorang. Duke dan Nowicki menyatakan bahwa orang dengan tipe kepribadian eksternal (merasa bahwa segala sesuatu lebih ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya sendiri) memerlukan jarak personal space yang lebih besar dibandingkan orang bertipe internal (merasa bahwa segala sesuatu lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri).
Dalam penelitian lain, Cook (1970) juga mengemukakan bahwa orang bertipe ekstrovert (lebih terbuka terhadap orang lain) memerlukan jarak personal space yang lebih kecil daripada tipe introvert (lebih berorientasi pada diri sendiri).
Selanjutnya Holahan melaporkan bahwa latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang juga mempengaruhi personal spacenya. Misalnya, orang Jerman lebih formal dalam berkomunikasi dengan orang lain dan karenanya mereka lebih menjaga jarak. Jika personal space mereka terganggu, sikap mereka menjadi ofensif. Di pihak lain, orang Inggris juga menjaga personal space dalam jarak yang jauh, tetapi lebih disebabkan oleh keinginan mereka untuk tidak mengganggu personal space orang lain. Mereka berbicara berbisik-bisik dengan temannya jika ada orang ketiga yang ingin mereka jaga personal spacenya. Akan tetapi, perbuatan ini oleh orang Amerika justru dianggap tidak menyenangkan karena bisa disangka sedang membicarakan suatu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang ketiga tersebut.
Orang Arab lain lagi, dalam berkomunikasi mereka harus sangat berdekatan. Dengan sesama jenis, kaum lelakinya saling merangkul dan mencium, bahkan mencium bau badan lawan bicaranya merupakan bagian yang diharuskan dalam komunikasi.
Akhirnya, variasi dalam personal space ini ternyata dipengaruhi juga oleh keadaan lingkungan dimana orang-orang yang sedang berinteraksi itu berada. Dalam ruang yang sempit diperlukan jarak lebih lebar daripada ruang yang luas. Penyekat ruangan bisa mengurangi perasaan invasi terhadap personal space. Dalam keadaan gelap orang cenderung untuk saling menyentuh.

Hubungan antara ruang personal dengan lingkungan

Hubungan antara Ruang Personal dengan lingkungan adalah dimana ruang personal ini berkaitan dengan batas-batas yang ada di sekeliling orang dimana jika batas ini terganggu atau ada ketidaknyaman dalam diri seseorang akan mengakibatkan lingkungan yang berada di sekitarnya pasti terganggu. Contohnya : seseorang yang masuk ke dalam bus tapi, mengganggu penumpang lain tentunya akan mengakibatkan, penumpang lainnya terganggu.
Dari penjabaran di atas tentunya dapat disimpulkan bahwa privasi, teknik territorial, dan ruang personal sangat erat kaitannya dengan lingkungan sekitar, dan dapat pula menyebabkan ketidakyamanan jika tidak digunakan dengan baik.

Privasi (Privacy)

Di atas telah dikatakan bahwa orang Jerman cenderung untuk menjaga jarak dengan lawan bicaranya. Personal space yang besar ini ternyata sesuai pula dengan kecenderungan mereka untuk membuat pintu-pintu yang tebal dan ruangan-ruangan kedap suara. Maksudnya agar mereka bisa mengurangi gangguan dari luar terhadap dirinya sampai ke tingkat yang paling minimal. Dalam psikologi lingkungan, gejala ini dinamakan privacy.
Privacy adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya. Jika kita meminjam istilah psikoanalisis, privacy berarti dorongan untuk melindungi ego seseorang dari gangguan yang tidak dikehendakinya.
Holahan pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis-jenis privacy (privacy preference scale) dan ia mendapatkan bahwa ada 6 jenis dalam privacy yang terbagi dalam dua golongan.
1. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik. Golongan ini terwujud dalam tingkah laku menarik diri (withdrawal) yang terdiri atas 3 jenis:
a. Keinginan untuk menyendiri (solitude).
b. Keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas (seclusion).
c. Keinginan untuk intim (intimacy) dengan orang-orang (misalnya dengan keluarga) atau orang tertentu saja (misalnya dengan pacar), tetapi jauh dari semua orang lainnya.
2. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu (control of information). Tiga jenis privacy yang termasuk dalam golongan ini adalah:
a. Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anonimity);
b. Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve); dan
c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring).
Khusus golongan kedua dari jenis-jenis privacy ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk merahasiakan sesuatu tentang diri sendiri. Namun antara privacy dan kerahasiaan (secrecy) ada perbedaan yang hakiki. Menurut Warren dan Laslett (1977), perbedaan antara kedua konsep itu adalah privacy merupakan kosensus masyarakat dan merupakan hak individu yang diakui oleh masyarakat, sedangkan secrecy lebih mempunyai konotasi negatif, tidak disukai masyarakat dan tidak ada kaitannya dengan hak individu.
Dari uraian diatas nampak bahwa privacy ini merupakan inti dari personal space. Menurut Holahan, privacy adalah hasrat atau kehendak untuk mengontrol akses fisik maupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak orang lain, sedangkan personal space adalah perwujudan privacy itu dalam bentuk ruang (space). Dengan demikian, privacy ini juga mempunyai fungsi dan merupakan bagian dari komunikasi. Misalnya Holahan mengatakan bahwa adanya kemungkinan untuk sewaktu-waktu mengundurkan diri atau menghindar dari seseorang yang tidak disukai akan menyebabkan hubungan dengan orang yang tidak disukai itu bisa lebih bertahan daripada jika kemungkinan untuk menghindar itu sama sekali tidak ada.
Selain itu, privacy juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi, yaitu mengenal diri sendiri dan menilai diri sendiri. Jika privacy ini terganggu, apalagi secara terus-menerus, akan terjadi proses ketelanjangan sosial, yaitu merasa semua orang tahu tentang rahasia diri sendiri sehingga timbul rasa malu menghadapi orang lain. Selain itu, juga terjadi proses deindividuasi dimana orang merasa bahwa individunya sudah tidak dihargai lagi karena itu ia pun tidak peduli pada harga diri sendiri maupun harga diri orang lain. Gejala seperti ini terjadi misalnya pada orang (misalnya artis) yang kisah-kisah pribadinya digosipkan atau pasien-pasien rumah sakit jiwa yang terus-menerus diobservasi selama 24 jam, diperiksa secara fisik dengan rutin dan toilet-toilet sengaja dibuat tak berpintu (gangguan terhadap akses fisik).

Hubungan antara Privasi dengan Lingkungan

Berikut akan dijelaskan tentang Privasi ternyata berpengaruh terhadap situasi lingkungan , dimana ketika ada seseorang yang memiliki tingkat privasi yang tinggi terhadap masalah yang sedang ia alami maka, orang tersebut cenderung ingin memisahkan diri dari lingkungannya dan cenderung, mencari tempat dimana ia bisa menyendiri. Tentunya lingkungan sekitarnya pun akan mengalami perubahan, perubahan terjadi yang paling mencolok adalah keluarganya. Keluarga pasti bertanya-tanya dengan masalah apa yang sedang dialami, tetapi ia tertutup dengan masalahnya. Lain halnya dengan seseorang yang memiliki privasi yang rendah terhadap masalah yang ia alami maka, orang tersebut cenderung mau berbagi terhadap orang dekatnya, baik keluarga ataupun teman-temannya, sehingga lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanannya tau keadaan orang tersebut. Tapi, privasi yang tinggi dan rendah memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam penilaian hubungannya dengan lingkungan. Biasanya kita tidak terlalu menyukai orang-orang yang terlalu terbuka atau tertutup dalam kehidupan sehari-hari, tapi kita lebih menyenangi orang yang dapat mengimbangi antara keterbukaan dan ketertutupan dalam menghadapi masalah, sehingga ia dapat mengatur privasinya dalam berinteraksi di dalam lingkungan masyarakat.

Teritorialitas (Territoriality)

Hal yang erat hubungannya dengan privacy dan personal space adalah territoriality (teritorialitas). Sama dengan personal space, teritorialitas adalah juga perwujudan ego yang tidak ingin diganggu. Dengan kata lain perwujudan privacy.
Akan tetapi, jika personal space merupakan kapsul maya yang berpindah-pindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan, teritorialitas merupakan tempat yang nyata, relatif tetap, dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan. Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Kamar tidur di rumah adalah teritori penghuninya. Jika ada orang yang tidak diundang masuk ke kamar tidur itu walaupun si penghuni sedang tidak di rumah maka penghuni itu akan tersinggung rasa teritorialitasnya dan ia akan marah. Demikian pula jika di lapangan parkir sebuah kantor sudah terpampang papan bertuliskan “Direktur” di salah satu tempat parkir maka orang lain diharapkan untuk tidak memarkir kendaraannya di tempat itu karena tempat itu sudah merupakan teritori Bapak Direktur. Contoh lain adalah bangku-bangku di ruang kuliah atau gedung bioskop. Kalau orang yang menempati bangku itu ingin pergi sebentar dan ia tidak ingin ada orang lain menempati bangkunya sementara ia pergi maka ia akan meninggalkan sesuatu (misalnya buku catatan, tas, map, tiket) di atas bangku itu. Orang lain yang melihat benda yang ditinggalkan itu diharapkan tahu bahwa bangku itu sudah menjadi teritori orang lain sehingga tidak boleh diduduki.
Dari uraian diatas dapatlah didefinisikan teritorialitas sebagai berikut, “Teritorialitas adalah suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas sebuah tempat atau suatu lokasi geografis. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar.”
Fisher (1984) menyatakan bahwa kepemilikan atau hak dalam teritorialitas ditentukan oleh persepsi dari orang atau orang-orang yang bersangkutan sendiri. Persepsi itu bisa aktual (memang nyatanya ia benar memiliki), tetapi juga bisa hanya merupakan kehendak untuk menguasai atau mengontrol suatu tempat. Tingkah laku teritorialitas terhadap kamar tidur, ruang kantor, atau batas wilayah negara misalnya, adalah tergolong aktual. Namun, teritorialitas terhadap bangku kuliah atau suatu tempat dibawah pohon rindang di Kebun Raya lebih merupakan kehendak untuk menguasai saja. Masalahnya, aktualisasi persepsi ini bisa sangat subjektif. Misalnya, jika seorang penghuni liar di perkampungan kumuh di sebuah kota besar diharuskan meninggalkan gubuknya, ia tidak akan mau karena ia merasa gubuknya itu sudah menjadi teritorinya karena ia sudah menghuni tempat itu bartahun-tahun tanpa ada yang mengusiknya. Padahal menurut ketentuan Dinas Tata Kota, kepemilikan harus dibuktikan dengan dokumen-dokumen tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. Disinilah akan timbul konflik teritori antar pihak yang berselisih. Jika yang berselisih itu adalah dua bangsa yang memperebutkan teritori untuk wilayah suatu negara maka bisa terjadi perang, misalnya perang antar Arab-Israel atau Perang Teluk antara Irak dan pasukan sekutu yang membantu Kuwait (tahun 1991).
Konflik-konflik teritorialitas bisa terjadi karena memang manusia cenderung bertingkah laku tertentu dalam mewujudkan kepemilikan atau haknya atas teritori tertentu. Beberapa tingkah laku itu, antara lain menyatakan kepada orang lain bahwa suatu tempat adalah memang miliknya atau haknya. Selanjutnya ia merasa hanya dirinya sendiri sajalah yang berhak untuk melakukan sesuatu atas teritori itu. Kadang-kadang ia membari ciri pribadinya terhadap teritori itu, seperti memberi nama (misalnya memancangkan papan bertuliskan “Direktur” di tempat parkir) dan memberi ciri khas pada tempat itu (misalnya menghias ruang kantornya atau mengecat rumahnya sesuai dengan seleranya).
Setelah itu ia mengembangkan pikiran-pikiran dan kepercayaan-kepercayaan tentang teritori, misalnya percaya bahwa tanah yang dihuninya adalah warisan nenek moyangnya sejak zaman Majapahit atau menganggap bahwa negaranya adalah yang paling molek di seluruh dunia, atau merasa bahwa ia yang paling berhak atas bangku kuliah yang terdepan walau datang terlambat karena biasanya ia yang paling pagi datang di ruang kuliah dan biasanya duduk di bangku terdepan itu. Akhirnya setelah keyakinan-keyakinan ini berkembang, orang akan melakukan tindakan untuk mempertahankan teritorinya itu. Disinilah terbuka kemungkinan untuk terjadi konflik dengan orang lain yang bermaksud mengintervensi teritori itu.
Menurut Ley dan Cibriwsky (1976), kecenderungan agresivitas teritorial pada manusia memang lebih besar daripada hewan. Kecenderungan itu akan menjadi paling besar pada situasi-situasi dimana batas-batas teritori tidak jelas atau bisa dipermasalahkan. Itulah sebabnya perkelahian antar gang anak remaja di kota-kota besar lebih sering terjadi jika wilayah kekuasaan mereka tidak jelas. Sebaliknya, jika batas teritori itu jelas dan disepakati oleh semua pihak terkait maka agresivitas atau konflik teritorial akan jauh lebih sedikit.
Jika tingkah laku teritorialitas pada manusia berintikan pada privacy maka tingkah laku teritorialitas pada hewan mempunyai dasar yang agak berbeda. Fungsi teritorialitas pada hewan menurut Fisher adalah untuk survival, yaitu dorongan untuk mempertahankan hidup dan mempertahankan jenis. Tingkah laku teritorialitas hewan ini, antara lain membuat atau mendiami tempat hunian, menyimpan bahan makanan di tempat tertentu, mencai atau mengumpulkan makanan dari suatu area tertentu, dan melindungi anak-anak hewan dari serangan binatang atau makhluk lain. Oleh K. Lorenz (1976), dorongan yang mendasari tingkah laku teritori pada hewan ini dinamakan naluri teritori.
Dengan demikian, teritorialitas pada manusia mempunyai fungsi lebih tinggi daripada sekedar fungsi survival. Namun, pada manusia pu teritorialitas ini tidak hanya berfungsi sebagai perwujudan privacy saja. Lebih jauh lagi teritorialitas juga mempunyai fungsi sosial dan komunikasi, sama halnya dengan personal space. Fungsi sosial dari teritorialitas misalnya nampak dalam pertemuan-pertemuan resmi dimana sudah ditentukan tempat duduk setiap orang sesuai dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan masing-masing. Seorang pegawai biasa tidak akan berani duduk di barisan paling depan walaupun tempat itu kosong karena bapak-bapak pejabat belum hadir. Begitu juga seorang anak tidak akan berani duduk di kursi ayah di meja makan karena kursi itu dianggap melambangkan status kepala keluarga di rumah. Oleh karena itu, teritorialitas juga mencerminkan lapisan-lapisan kelas sosial dalam masyarakat.
Sebagai media komunikasi, sama halnya dengan personal space, teritori juga terbagi dalam beberapa golongan. Penggolongan yang diajukan oleh Altman adalah sebagai berikut:
1. Teritori primer, yaitu tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab hubungannya atau yang sudah mendapat ijin khusus. Misalnya rumah dan ruangan kantor.
2. Teritori sekunder, yaitu tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Misalnya, ruang kelas, kantin khusus di kantor, dan ruang latihan untuk suatu klub olahraga atau kesenian.
3. Teritori publik, yaitu tempat-tempat terbuka untuk umum, dimana pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat itu. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, dan ruang sidang pengadilan yang dinyatakan terbuka untuk umum.

Hubungan antara Teritorialitas dengan Lingkungan

Hubungan antara Teknik Teritorial dengan lingkungan dimana territorial terbagi atas 3 bagian : territorial primer, sekunder, dan umum. Primer contohnya adalah ruang kerja, ruang tidur, dimana jika seseorang memiliki ruang kerja yang tidak teratur, maka juga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan di lingkungan sekitarnya walaupun tingkat ketidaknyamanannya tidak terlalu tinggi, territorial sekunder contohnya, toilet yang sifatnya semi public dimana daerah tersebut sering dikunjungi oleh banyak orang apabila keadaan toilet tidak bersih, juga akan mengakibatkan lingkungan masyarakat merasa tidak nyaman. Territorial umum contohnya adalah antrian karcis yang jika tidak antri atau tidak menaati tata tertib pembelian karcis maka, akan mengakibatkan perselisihan yang dapat menimbulkan lingkungan masyarakat terganggu.

Senin, 21 Maret 2011

Kesesakan (Crowding) dan Kepadatan (Density)

Kepadatan dan kesesakan adalah dua dari beberapa kosep gejala persepsi manusia terhadap lingkungannya. Kedua konsep ini saling berhubungan dan berkaitan satu sama lainnya sehingga mendapat perhatian yang serius dari para ahli psikologi lingkungan.
Penelitian tentang kepadatan pada manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian Calhoun ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus.
Berikut ini akan dibahas mengenai definisi beserta penjelasan mengenai kepadatan dan kesesakan dari para tokoh, hubungan antara kepadatan dan kesesakan, teori-teori yang berhubungan dengan kepadatan dan kesesakan, serta dampak kepadatan dan kesesakan bagi manusia.

Definisi Kesesakan dan Kepadatan
Bentuk lain dari persepsi terhadap lingkungan adalah kesesakan (crowding). Kalau kita berada dalam kereta api atau bus yang penuh dengan penumpang, kita merasa sesak karena didesak-desak orang lain. Demikian juga kalau kita menghadiri resepsi perkawinan yang dihadiri oleh ribuan undangan dan kita harus antri lama sekali untuk membari ucapan selamat kepada pengantin, kita merasa sesak. Jelaslah bahwa kesesakan ada hubungannya dengan kepadatan (density), yaitu banyaknya jumlah manusia dalam suatu batas ruang tertentu. Makin banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya.
Hubungan antara kepadatan dan kesesakan mempunyai dua ciri. Ciri pertama, kesesakan adalah persepsi terhadap kepadatan dalam artian jumlah manusia. Jadi, tidak termasuk di dalamnya kepadatan dalam arti hal-hal lain yang nonmanusia. Orang yang berada sendirian di tengah sabana yang luas maupun dalam hutan rimba yang penuh pohon dan binatang buas atau ditengah kota yang penuh bangunan tetapi tidak berpenghuni, tidak akan mempersepsikan kesesakan seperti yang dialami oleh penumpang kereta api atau bus atau pengunjung resepsi pernikahan seperti diatas
Ciri kedua, karena kesesakan adalah persepsi maka sifatnya subjektif. Orang yang sudah biasa naik bus yang padat penumpangnya, mungkin sudah tidak merasa sesak lagi (density tinggi tetapi crowding rendah). Sebaliknya, orang yang biasa menggunakan kendaraan pribadi, bisa merasa sesak dalam bus yang setengah kosong (density rendah tetapi crowding tinggi).
Karena adanya perbedaan antara kepadatan dan kesesakan itu, beberapa pakar juga membedakannya secara teoritis. Stokols (1972, 1978) menyatakan bahwa density adalah kendala keruangan (spatial constraint), sedangkan crowding adalah respon subjektif terhadap ruang yang sesak (tight space).
Sedangkan Altman (1975) menyatakan bahwa kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia setu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.
Kepadatan memang merupakan syarat yang diperlukan untuk timbulnya persepsi kesesakan, tetapi bukanlah merupakan syarat yang mutlak harus ada. Misalnya, pada pasar malam atau pertunjukan bioskop di lapangan atau tempat keramaian lainnya, orang justru mencari kepadatan ditengah keramaian itu, walaupun kepadatannya tinggi, orang tidak merasa sesak. Kesesakan baru terjadi jika ada gangguan atau hambatan tertentu dalam interaksi sosial atau dalam usaha pencapaian suatu tujuan. Misalnya jika orang harus berkompetisi untuk mendapat tempat duduk di bus atau antri untuk berjabat tangan dengan pengantin atau tidak bisa berenang dengan leluasa di kolam renang umum yang penuh dengan pengunjung.
Di lain pihak, karena hubungan yang sangat erat antara kepadatan dan kesesakan, ada pakar-pakar lain yang tidak setuju dengan pembedaan antara kedua hal itu. Jonathan Freedman (1975), misalnya, mengatakan bahwa kesesakan sebagai reaksi subjektif sulit diukur. Ini adalah pandangan behavioristik yang cenderung mengabaikan segala proses internal, termasuk persepsi dan perasaan. Selain itu, menurut Freedman konotasi kesesakan selalu negatif (tidak ada orang yang merasa senang dalam keadaan sesak), sedangkan kalau kita samakan saja kesasakan dengan kepadatan maka kita bisa mencapai objektivitas yang lebih murni dan sekaligus bisa diterangkan mengapa kepadatan juga bisa menimbulkan dampak positif (seperti dalam kasus tempat keramaian diatas).
Pandangan Freedman ini tidak banyak disetujui para pakar lainnya. Secara umum lebih banyak yang setuju dengan Stokols karena memang kedua konsep itu merupakan dua hal yang berbeda dalam kenyataan. Salah satu penelitian yang mendukung pandangan Stokols adalah yang dilakukan oleh A.I Schiffenbauer dkk. (1977). Dalam eksperimennya, ia membuktikan bahwa ruangan dengan banyak sinar menimbulkan kesan kurang sesak, tetapi tidak menambah kesan luas sehingga kalau diisi oleh banyak orang tetap saja ada kesan sempit. Sebaliknya, gedung-gedung berlantai banyak memberi kesan luas (banyak ruangan), tetapi tidak mengurangi kesan sesak karena banyaknya penghuni di gedung itu. Kesimpulannya, antara kepadatan dan kesesakan tidak berkorelasi.
Penelitian-penelitian lain membuktikan bahwa karena sifatnya yang subjektif maka ada beberapa jenis kepadatan pada manusia.
Loo (1973), Mc Grew (1970), dan Saegert (1973, 1974) mengemukakan bahwa pada manusia terdapat kepadatan sosial disamping kepadatan ruangan. Di sebuah ruangan pertemuan yang padat dengan pengunjung, misalnya kepadatan itu bisa disebabkan persepsi bahwa ruangannya memang terlalu sempit untuk sekian banyak pengunjung (kepadatan ruang), tetapi bisa juga karena persepsi bahwa jumlah undangannya terlalu banyak untuk ruangan itu (kepadatan sosial). Reaksi orang terhadap kedua jenis kepadatan itu bisa berbeda. Dalam hal kepadatan ruang, reaksinya mungkin keluar dari ruangan dan mencari tempat lain di sekitar ruangan yang masih agak lega, sedangkan dalam hal kepadatan sosial, mungkin orang akan pulang saja karena merasa bahwa jika ia tidak hadir dalam pertemuan itu tuan rumah juga tidak akan mencari-carinya.
Teori-Teori Kepadatan dan Kesesakan
Peneliti-peneliti seperti Carey (1972) dan Carson (1964) menemukan bahwa manusia membedakan kepadatan di dalam rumahnya (inside density) dan diluar rumahnya (outside density). Dengan mengkombinasikan dua jenis kepadatan ini diperoleh 4 jenis kepadatan, yaitu:
a. Kepadatan pedesaan dimana kepadatan di dalam rumah tinggi, tetapi kepadatan di luar rendah;
b. Kepadatan pinggiran kota (suburb) dimana kepadatan di dalam maupun di luar rumah rendah;
c. Kepadatan pemukiman kumuh di kota dimana kepadatan di luar maupun di dalam rumah tinggi;
d. Kepadatan pemukiman mewah di kota besar dimana kepadatan di dalam rumah rendah, tetapi kepadatan di luar rumah tinggi.
Sedangkan untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga model teori, yaitu beban stimulus, kendala perilaku, dan teori ekologi.
Menurut model bebean stimulus, kesesakan akan terjadi pada individu yang dikenai terlalu banyak stimulus, sehingga individu tersebut tak mampu lagi memprosesnya. Model kendala perilaku menerangkan bahwa kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa, sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu. Hambatan ini mengakibatkan individu akan melakukan psychological reactance, yaitu suatu bentuk perlawanan terhadap kondisi mengancam kebebasan untuk memilih. Bentuk psychological reactance tersebut adalah usaha-usaha untuk mendapatkan lagi kebebasan yang hilang, misalnya dengan cara mencari lingkungan baru atau dengan menata kembali lingkungan yang menyesakan tersebut. Sedangkan pembahasan teori ekologi membahas kesesakan dari sudut proses sosial.
1) Model beban stimulus
Pendapat teori ini mendasarkan diri pada pandangan bahwa kesesakan akan terbentuk bila stimulus yang diterima individu melebihi kapasitas kognitifnya sehingga timbul kegagalan memproses stimulus atau informasi lingkungan. Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus disini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek-aspek interaksinya, maupun kondisi-kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya informasi dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:
(a) Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
(b) Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat
(c) Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
(d) Terlalu banyak mitra interaksi
(e) Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama
Individu akan melakukan penyaringan atau pemilahan terhadap informasi yang berlebihan tersebut. Stimulus yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingannya akan diabaikan. Stimulus yang penting dan bermanfaat bagi dirinyalah yang akan diperhatikan. Hal tersebut disarankan oleh Milgram bagi penduduk kota untuk melakukan beberapa strategi untuk menyaring informasi yang mereka terima berlebih. Strategi pertama adalah membuat perbedaan-perbedaan antara informasi yang mendapat prioritas tinggi dengan rendah dan hanya akan memperhatikan informasi yang mendapat prioritas tinggi. Strategi kedua adalah membatasi waktu yang digunakan untuk memperhatikan tiap-tiap informasi bahkan menolak informasi yang datang bersama-sama. Dengan strategi ini diharapkan intensi informasi yang datang akan berkurang.
2) Teori kendala perilaku
Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak bila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat. Pendekatan ini didasari oleh teori reaktansi psikologis (psychological reactance) dari Brehm yang menekankan kebebasan memilih sebagai faktor pendorong penting dalam persepsi dan perilaku manusia. Ia mengatakan bahwa bila kebebasan itu terhambat, maka individu akan mengadakan suatu reaksi dengan berusaha menemukan kebebasan yang hilang tadi, yang digunakan untuk mencapai tujuannya.
Proshansky dan kawan-kawan (1976) mengemukakan bahwa pengaruh psikologis dari kesesakan yang utama adalah kebebasan memilih individu dalam situasi yang sesak. Dengan bertambahnya kehadiran orang lain menyebabkan gagalnya usaha yang dilakukan individu dalam mencapai tujuannya. Kesesakan terjadi bila kehadiran orang lain dalam suatu seting membatasi kebebasan individu dalam mencapai tujuannya.
Menurut teori ini, bila timbul gangguan terhadap kebebasan berperilaku, maka orang akan cenderung untuk membentuk semacam sikap penolakan psikologis. Hal tersebut berhubungan dengan campur tangan sosial atau hambatan-hambatan terhadap perilaku yang berupa aktivitas-aktivitas dari orang-orang di lingkungan sekitar. Individu akan mengatasi situasi tersebut secara kognisi maupun tercetus dalam bentuk perilaku, misalnya dengan mencari lingkungan baru atau hanya sekedar memanipulasi lingkungan yang lama.
3) Teori Ekologi
Micklin mengemukakan sifat-sifat umum model ekologi pada manusia. Pertama, teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbal balik antara orang dengan lingkungannya. Kedua, unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan sangat penting. Ketiga, menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial.
Wicker (1967) menegmukakan teorinya tentang manning. Teori ini berdiri atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor seting dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukan kethoprak atau pesta ulang tahun. Analisis terhadap seting meliputi:
(a) Maintenance minimum, yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu seting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Agar pembicaraan menjadi lebih jelas, akan digunakan kasus pada sebuah rumah sebagai contoh suatu seting. Dalam hal ini yang dinamakan maintenance setting adalah jumlah penghuni rumah minimum agar suatu ruang tidur ukuran 4x3 meter bisa dipakai oleh anak-anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
(b) Capacity, adalah jumlah maksimum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang maksimum yang dapat duduk di ruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan).
(c) Applicant, adalah jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dibagi menjadi dua, yaitu:
• Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peran utama, dalam hal ini suami dan istri.
• Non-performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran-peran sekunder, dalam hal ini anak-anak atau keluarga.
Besarnya maintenance minimum antara performer dan non-performer tidak selalu sama. Dalam seting tertentu, jumlah performer lebih sedikit daripada jumlah non-performer, dalam seting lain mungkin sebaliknya.
Jika applicant lebih sedikit daripada maintenance minimum, berarti jumlah warga yang dibutuhkan untuk terjadinya suatu aktivitas tidak mencukupi. Keadaan ini disebut undermanning atau undercrowding. Adequate manning terjadi bila jumlah warga sesuai (tidak kurang dan tidak lebih) dengan syarat seting. Overmanning atau overcrowding terjadi bila jumlah penghuni berlebihan sehingga seting tersebut tidak mampu lagi menampungnya.

Dampak kesesakan dan kepadatan pada manusia
Berbagai penelitian pada manusia menunjukkan bahwa manusia menampakkan tingkah laku yang menyerupai behavioral sink sebagai akibat dari kepadatan atau kesesakan. Holahan mencatat beberapa akibat kepadatan yang ditandai gejala antara lain sebagai berikut:
a. Dampak pada penyakit dan patologi sosial
1) Reaksi fisiologik, misalnya peningkatan denyut jantung dan meningkatnya tekanan darah.
2) Penyakit fisik, seperti psikosomatik (gangguan pencernaan, gatal-gatal, dan sebagainya yang tidak disebabkan oleh kelainan fisik) dan meningkatnya angka kematian.
3) Patologi sosial, misalnya meningkatnya kejahatan, bunuh diri, penyakit jiwa, dan kenakalan remaja.
b. Dampak pada tingkah laku sosial
1) Agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri atau murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density).
2) Menarik diri dari lingkungan sosial.
3) Kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan berkurangnya tingkah laku menolong sesama anggota kelompok.
4) Kecenderungan untuk lebih banyak melihat sisi jelek dari orang lain jika terlalu lama tinggal bersama orang lain itu di tempat yang padat atau sesak.
c. Dampak pada hasil usaha dan suasana hati
1) Hasil usaha atau prestasi kerja menurun terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.
2) Penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan.
3) Suasana hati (mood) cenderung lebih murung.
Stokols mengatakan bahwa apabila kesesakan tidak dapat diatasi, maka akan menyebabkan stres pada individu. Stres yang dialami individu dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung pada kemampuan individu dalam menghadapi stres. Individu yang mengalami stres umumnya tidak mampu melakukan interaksi sosial dengan baik, sehingga dapat menurunkan perilaku untuk membantu orang lain.
Sedangkan Freedman menyatakan bahwa bila lingkungan berubah menjadi sesak (crowded), sumber-sumber yang ada didalamnya pun bisa menjadi berkurang, aktivitas seseorang akan terganggu oleh aktivitas orang lain, interaksi interpersonal yang tidak diinginkan akan mengganggu individu dalam mencapai tujuan personalnya, gangguan terhadap norma tempat dapat meningkatkan gejolak dan ketidaknyamanan serta disorganisasi keluarga, agresi, penarikan diri secara psikologis, dan menurunnya kualitas hidup.
Ditambahkan oleh Ancok (1989), perasaan sesak (crowding) di dalam rumah akan menimbulkan beberapa permasalahan antara lain:
1) Menurunnya frekuensi hubungan sex.
2) Memburuknya interaksi suami istri.
3) Memburuknya cara pengasuhan anak.
4) Memburuknya hubungan dengan orang-orang diluar rumah.
5) Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa.
Dari sekian banyak akibat negatif kesesakan pada perilaku manusia, Brigham (1991) mencoba menerangkan dan menjelaskannya menjadi (1) pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekan perasaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain; (2) keterbatasan perialku, pelanggaran privasi dan terganggunya kebebasan memilih; (3) kontrol pribadi yang kurang; dan (4) stimulus yang berlebih.
Walaupun pada umumnya kesesakan berakibat negatif pada perilaku seseorang, tetapi menurut Altman (1975) dan Watson dkk.(1984), kesesakan kadang memberikan kepuasan dan kesenangan. Hal ini tergantung pada tingkat privasi yang diinginkan, waktu dan situasi tertentu, serta seting kejadian. Situasi yang memberikan kepuasan dan kesenangan bisa kita temukan misalnya pada waktu melihat pertunjukan musik, pertandingan olahraga, atau menghadiri reuni atau resepsi.

Referensi:
Wirawan Sarwono, Sarlito. (1992). Psikologi lingkungan. Jakarta: PT Grasindo