Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis.
Jika orang tua atau guru melihat tanda-tanda adanya gangguan belajar pada anak, perlu segera dikonsultasikan kepada dokter. Dokter meneliti anak tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca, menulis, dan keahlian aritmatik.
Pertama kali dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya gangguan pada penglihatan dan pendengaran. Karena seringkali gangguan pada penglihatan dan pendengaran juga dapat mengganggu kemampuan belajar anak. Pemeriksaan psikologis seperti tingkat kecerdasan (tes IQ), juga perlu dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya tingkat kecerdasan yang kurang, seperti pada retardasi mental. Selain itu, diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan jiwa lain seperti autisme, gangguan pemusatan perhatian dan perilaku, atau gangguan kecemasan.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
Jumat, 30 April 2010
CARA MENDETEKSI GANGGUAN BELAJAR
Tanda dari kesulitan belajar sangat bervariasi, tergantung dari usia anak pada saat itu. Sensitivitas atau kepekaan orang tua dan guru seringkali sangat membantu dalam deteksi dini. Orang tua atau guru yang melihat adanya kesenjangan yang konsisten antara kemampuan akademik anak dengan kemampuan rata-rata teman sekelasnya atau prestasi anak yang tidak kunjung meningkat walaupun pelajaran tambahan sudah diberikan, haruslah mulai berpikir
apa yang sebenarnya terjadi dalam diri sang anak. Apalagi jika disertai oleh beberapa gejala di bawah ini :
1. Untuk anak pra-sekolah
• Keterlambatan berbicara jika dibandingkan anak seusianya.
• Adanya kesulitan dalam pengucapan kata.
• Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim.
• Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat.
• Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari dalam seminggu.
• Mengalami kesulitan dalam menghubung-hubungkan kata dalam suatu kalimat.
• Kegelisahan yang sangat ekstrim dan mudah teralih perhatiannya.
• Kesulitan berinteraksi dengan anak seusianya.
• Menunjukkan kesulitan dalam mengikuti suatu petunjuk atau rutinitas tertentu.
• Selalu menghindari permainan `puzzles'.
• Menghindari pelajaran menggambar atau prakarya tertentu seperti menggunting.
2. Untuk anak usia sekolah
• Mempunyai kemampuan daya ingat yang buruk.
• Selalu membuat kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, misalnya huruf b dibaca d, huruf m dibaca w, kesalahan transposisi yaitu kata roda dibaca dora.
• Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
• Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika, misalnya tidak dapat membedakan antara tanda – dengan +, tanda + dengan x, dll.
• Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat yang baik.
• Sangat aktif, tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu secara tuntas.
• Impulsif (bertindak sebelum berpikir).
• Sulit konsentrasi atau perhatiannya mudah teralih.
• Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah.
• Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
• Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-harinya.
• Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya.
• Menolak bersekolah.
• Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
• Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen.
• Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari / waktu
Jika orang tua atau guru menemukan beberapa gejala di atas maka sebaiknya dilakukan evaluasi oleh tenaga profesional seperti, dokter anak atau psikiater anak atau tenaga profesional lainnya.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
apa yang sebenarnya terjadi dalam diri sang anak. Apalagi jika disertai oleh beberapa gejala di bawah ini :
1. Untuk anak pra-sekolah
• Keterlambatan berbicara jika dibandingkan anak seusianya.
• Adanya kesulitan dalam pengucapan kata.
• Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim.
• Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat.
• Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari dalam seminggu.
• Mengalami kesulitan dalam menghubung-hubungkan kata dalam suatu kalimat.
• Kegelisahan yang sangat ekstrim dan mudah teralih perhatiannya.
• Kesulitan berinteraksi dengan anak seusianya.
• Menunjukkan kesulitan dalam mengikuti suatu petunjuk atau rutinitas tertentu.
• Selalu menghindari permainan `puzzles'.
• Menghindari pelajaran menggambar atau prakarya tertentu seperti menggunting.
2. Untuk anak usia sekolah
• Mempunyai kemampuan daya ingat yang buruk.
• Selalu membuat kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, misalnya huruf b dibaca d, huruf m dibaca w, kesalahan transposisi yaitu kata roda dibaca dora.
• Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
• Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika, misalnya tidak dapat membedakan antara tanda – dengan +, tanda + dengan x, dll.
• Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat yang baik.
• Sangat aktif, tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu secara tuntas.
• Impulsif (bertindak sebelum berpikir).
• Sulit konsentrasi atau perhatiannya mudah teralih.
• Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah.
• Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
• Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-harinya.
• Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya.
• Menolak bersekolah.
• Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
• Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen.
• Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari / waktu
Jika orang tua atau guru menemukan beberapa gejala di atas maka sebaiknya dilakukan evaluasi oleh tenaga profesional seperti, dokter anak atau psikiater anak atau tenaga profesional lainnya.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
PEMERIKSAAN UNTUK ANAK YANG MENGALAMI GANGGUAN BELAJAR
Pemeriksaan terhadap anak dengan gangguan atau kesulitan belajar sebaiknya dilakukan oleh suatu tim kerja terpadu yang meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti Dokter anak, Psikiater anak, Psikolog, Orthopaedago, dan sebagainya.
1. Wawancara orang tua dan anak
• Riwayat kehamilan
• Riwayat perkembangan fisik dan mental anak
• Riwayat medik anak termasuk fungsi indera penglihatan dan
pendengaran
• Riwayat keluarga dan ada tidaknya perubahan struktur keluarga
• Usia mulai timbulnya kesulitan belajar
• Ada tidaknya masalah kelurga yang dapat memicu timbulnya gangguan atau kesulitan
belajar pada anak
• Apakah ada tanda-tanda pencenderaan pada anak, baik fisik, emosi
atau seksual
2. Evaluasi anak oleh
• Dokter anak
Dokter anak merupakan dokter yang sering melakukan skrining awal adanya kesulitan belajar pada anak. Pemeriksaan fisik dan neurologi lengkap biasanya telah dilakukan, termasuk pemeriksaan mata, pendengaran atau kondisi medik lainnya bila diperlukan
• Psikiater anak
Melakukan pemeriksaan kondisi mental emosional anak. Evaluasi perasaan anak terhadap ketidakmampuan dalam memenuhi harapan sekolah atau orang tuanya. Observasi bagaimana interaksi anak dengan lingkungannya, harapan dan cita-cita anak. Selain itu, melakukan analisa dan penyimpulan akan adanya gangguan psikiatrik lain yang menyertai gangguan atau kesulitan belajar.
• Psikolog
Pemeriksaan oleh psikolog akan memberikan data mengenai sikap anak dalam menghadapi tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu juga memberikan masukan mengenai fungsi kecerdasan, bakat dan minat anak secara keseluruhan.
• Guru
Informasi mengenai pola perilaku dan prestasi akademik anak di sekolah, khususnya di dalam kelas merupakan informasi yang penting diketahui. Informasi ini tidak hanya penting dalam menegakkan diagnosis, tetapi juga dalam tindak lanjut dari penanganan yang akan dan telah diberikan kepada anak.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
1. Wawancara orang tua dan anak
• Riwayat kehamilan
• Riwayat perkembangan fisik dan mental anak
• Riwayat medik anak termasuk fungsi indera penglihatan dan
pendengaran
• Riwayat keluarga dan ada tidaknya perubahan struktur keluarga
• Usia mulai timbulnya kesulitan belajar
• Ada tidaknya masalah kelurga yang dapat memicu timbulnya gangguan atau kesulitan
belajar pada anak
• Apakah ada tanda-tanda pencenderaan pada anak, baik fisik, emosi
atau seksual
2. Evaluasi anak oleh
• Dokter anak
Dokter anak merupakan dokter yang sering melakukan skrining awal adanya kesulitan belajar pada anak. Pemeriksaan fisik dan neurologi lengkap biasanya telah dilakukan, termasuk pemeriksaan mata, pendengaran atau kondisi medik lainnya bila diperlukan
• Psikiater anak
Melakukan pemeriksaan kondisi mental emosional anak. Evaluasi perasaan anak terhadap ketidakmampuan dalam memenuhi harapan sekolah atau orang tuanya. Observasi bagaimana interaksi anak dengan lingkungannya, harapan dan cita-cita anak. Selain itu, melakukan analisa dan penyimpulan akan adanya gangguan psikiatrik lain yang menyertai gangguan atau kesulitan belajar.
• Psikolog
Pemeriksaan oleh psikolog akan memberikan data mengenai sikap anak dalam menghadapi tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu juga memberikan masukan mengenai fungsi kecerdasan, bakat dan minat anak secara keseluruhan.
• Guru
Informasi mengenai pola perilaku dan prestasi akademik anak di sekolah, khususnya di dalam kelas merupakan informasi yang penting diketahui. Informasi ini tidak hanya penting dalam menegakkan diagnosis, tetapi juga dalam tindak lanjut dari penanganan yang akan dan telah diberikan kepada anak.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
INTERVENSI GANGGUAN BELAJAR
Intervensi-intervensi untuk gangguan belajar umumnya menggunakan perspektif berikut (Lyon & Moats,1988) :
1. Model Psikoedukasi
Menekankan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak daripada usaha untuk mengoreksi definisi yuang diduga mendasarinya.
2. Model Behavioral
Mengasumsikan bahwa belajar akademik dibangun diatas hierarki ketrampilan-ketrampilan dasar, atau “perilaku yang memampukan (enabling behaviours).”
3. Model Medis
Mengasumsikan bahwa gangguan belajar merupakan simtom-simtom dari defisiensi dalam pengolahan kognitif yang memiliki dasar biologis.
4. Model neuropsikologi
Berasal dari model psikoedukasi dan medis, diasumsikan bahwa gangguan belajar merefleksikan deficit dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis (model medis).
5. Model lingguistik
Berfokus pada defisiensi dasar dalam bahasa anak, seperti kegagalan untuk mengenali bagaimana suara-suara dan kata-kata saling dikaitkan untuk menciptakan arti, yang akan menimbulkan masalah dalam membaca, mengeja, dan menemukan kata-kata untuk mengekspresikan diri mereka.
6. Model kognitif
Berfokus pada bagaimana anak-anak mengatur pemikiran-pemikiran mereka ketika mereka balajar materi-materi akademik.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
1. Model Psikoedukasi
Menekankan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak daripada usaha untuk mengoreksi definisi yuang diduga mendasarinya.
2. Model Behavioral
Mengasumsikan bahwa belajar akademik dibangun diatas hierarki ketrampilan-ketrampilan dasar, atau “perilaku yang memampukan (enabling behaviours).”
3. Model Medis
Mengasumsikan bahwa gangguan belajar merupakan simtom-simtom dari defisiensi dalam pengolahan kognitif yang memiliki dasar biologis.
4. Model neuropsikologi
Berasal dari model psikoedukasi dan medis, diasumsikan bahwa gangguan belajar merefleksikan deficit dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis (model medis).
5. Model lingguistik
Berfokus pada defisiensi dasar dalam bahasa anak, seperti kegagalan untuk mengenali bagaimana suara-suara dan kata-kata saling dikaitkan untuk menciptakan arti, yang akan menimbulkan masalah dalam membaca, mengeja, dan menemukan kata-kata untuk mengekspresikan diri mereka.
6. Model kognitif
Berfokus pada bagaimana anak-anak mengatur pemikiran-pemikiran mereka ketika mereka balajar materi-materi akademik.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
DAMPAK GANGGUAN BELAJAR
Kesulitan belajar yang terjadi pada seorang anak tidak hanya berdampak bagi pertumbuhan dan perkembangan anak saja, tetapi juga berdampak dalam kehidupan keluarga dan juga dapat mempengaruhi interaksi anak dengan lingkungannya. Sistim keluarga dapat mengalami disharmoni oleh karena saling menyalahkan di antara ke dua orang tua. Orang tua merasa frustrasi, marah, kecewa, putus asa, merasa bersalah atau menolak, dengan kondisi ini justru membuat anak dengan kesulitan belajar merasa lebih terpojok lagi.
Anak dengan kesulitan belajar seringkali menuding dirinya sebagai anak yang bodoh, lambat, berbeda dan keterbelakang. Mereka menjadi tegang, malu, rendah diri dan berperilaku nakal, agresif, impulsif atau bahkan menyendiri atau menarik diri untuk menutupi kekurangan pada dirinya. Seringkali mereka tampak sulit berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan bermain dengan anak-anak yang mempunyai usia lebih muda dari mereka. Hal ini menandakan terganggunya sistim harga diri anak. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa anak membutuhkan pertolongan segera.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
Anak dengan kesulitan belajar seringkali menuding dirinya sebagai anak yang bodoh, lambat, berbeda dan keterbelakang. Mereka menjadi tegang, malu, rendah diri dan berperilaku nakal, agresif, impulsif atau bahkan menyendiri atau menarik diri untuk menutupi kekurangan pada dirinya. Seringkali mereka tampak sulit berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan bermain dengan anak-anak yang mempunyai usia lebih muda dari mereka. Hal ini menandakan terganggunya sistim harga diri anak. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa anak membutuhkan pertolongan segera.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
PENANGANAN GANGGUAN BELAJAR
Walaupun gangguan yang terjadi pada sebagian otak sudah tidak dapat diperbaiki lagi, tetapi masih ada bagian otak lain yang masih dapat dirangsang untuk dapat berfungsi optimal. Oleh karena itu pemberian terapi haruslah sedini dan seoptimal mungkin, sehingga anak diharapkan dapat mengejar apa yang menjadi kekurangannya selama ini. Penanganan yang diberikan pada kasus anak dengan gangguan atau kesulitan belajar tergantung pada hasil pemeriksaan yang komprehensif dari tim kerja. Tim ini terdiri dari berbagai tenaga profesional yang bekerja pada suatu klinik kesulitan belajar. Dengan demikian orang tua akan memperoleh pelayanan ‘one stop assessment’ yang mempermudah mereka dalam mencari pertolongan untuk anaknya. Penanganan yang diberikan pada anak dengan gangguan atau kesulitan belajar meliputi;
1. Penatalaksanaan di bidang medis
• Terapi obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau psikiatrik yang diderita oleh anak, misalnya berbagai kondisi depresi dapat diberikan obat golongan Antidepresan, GPPH diberikan obat golongan Psikostimulansia, misalnya Ritalin.
• Terapi perilaku
Terapi perilaku yang sering diberikan adalah modifikasi perilaku. Dalam hal ini anak akan mendapatkan penghargaan langsung jika ia dapat memenuhi suatu tugas atau tanggung jawab atau berperilaku positif tertentu. Di lain pihak, ia akan mendapatkan peringatan jika ia memperlihatkan perilaku negatif. Dengan adanya penghargaan dan peringatan langsung ini maka diharapkan anak dapat mengontrol perilaku negatif yang tidak dikehendaki, baik di sekolah atau di rumah.
• Psikoterapi suportif
Dapat diberikan kepada anak dan keluarganya. Tujuannya ialah untuk memberi pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada, sehingga dapat menimbulkan motivasi yang konsisten dalam usaha untuk memerangi kesulitan ini.
• Pendekatan psikososial lainnya ialah psikoedukasi orang tua dan guru pelatihan keterampilan sosial bagi anak.
2. Penatalaksanaan di bidang pendidikan
Dalam hal ini terapi yang paling efektif ialah terapi remedial, yaitu bimbingan langsung oleh guru yang terlatih dalam mengatasi gangguan atau kesulitan belajar anak. Guru remedial ini akan menyusun suatu metoda pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga melatih anak untuk dapat belajar dengan baik dengan teknik-teknik pembelajaran tertentu (sesuai dengan jenis gangguan atau kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat bermanfaat bagi anak dengan gangguan atau kesulitan belajar.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
1. Penatalaksanaan di bidang medis
• Terapi obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau psikiatrik yang diderita oleh anak, misalnya berbagai kondisi depresi dapat diberikan obat golongan Antidepresan, GPPH diberikan obat golongan Psikostimulansia, misalnya Ritalin.
• Terapi perilaku
Terapi perilaku yang sering diberikan adalah modifikasi perilaku. Dalam hal ini anak akan mendapatkan penghargaan langsung jika ia dapat memenuhi suatu tugas atau tanggung jawab atau berperilaku positif tertentu. Di lain pihak, ia akan mendapatkan peringatan jika ia memperlihatkan perilaku negatif. Dengan adanya penghargaan dan peringatan langsung ini maka diharapkan anak dapat mengontrol perilaku negatif yang tidak dikehendaki, baik di sekolah atau di rumah.
• Psikoterapi suportif
Dapat diberikan kepada anak dan keluarganya. Tujuannya ialah untuk memberi pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada, sehingga dapat menimbulkan motivasi yang konsisten dalam usaha untuk memerangi kesulitan ini.
• Pendekatan psikososial lainnya ialah psikoedukasi orang tua dan guru pelatihan keterampilan sosial bagi anak.
2. Penatalaksanaan di bidang pendidikan
Dalam hal ini terapi yang paling efektif ialah terapi remedial, yaitu bimbingan langsung oleh guru yang terlatih dalam mengatasi gangguan atau kesulitan belajar anak. Guru remedial ini akan menyusun suatu metoda pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga melatih anak untuk dapat belajar dengan baik dengan teknik-teknik pembelajaran tertentu (sesuai dengan jenis gangguan atau kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat bermanfaat bagi anak dengan gangguan atau kesulitan belajar.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
PENGOBATAN GANGGUAN BELAJAR
Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
Referensi:
http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=150
Langganan:
Postingan (Atom)